Refleksi Menyentuh Rano Karno di 30 Tahun Kudatuli: "Si Doel Ternyata Cerita Politik, Saya Berutang kepada Peristiwa 27 Juli"

Orang-orang yang bertahan di dalamnya bukan jenderal, bukan orang kaya, bukan elite. Mereka dipukuli, ada yang hilang sampai hari ini
Sabtu, 18 Juli 2026 19:43 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id Sambutan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno atau biasa disapa Bang Doel, dalam peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu momen paling emosional dalam rangkaian Public Lecture bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (18/7).

Dengan penuh penghayatan, Bang Doel mengaku datang membawa dua perasaan, yakni perasaan pulang ke rumah kebudayaan yang membesarkan karier seninya dan perasaan berutang kepada para pejuang demokrasi yang menjadi korban Serangan 27 Juli 1996.

Banyak orang mengenal saya sebagai Si Doel. Dulu saya kira itu hanya cerita keluarga. Makin tua saya makin sadar, Si Doel itu cerita politik, kata Rano.

Ia menjelaskan, kisah Si Doel sesungguhnya menggambarkan kehidupan rakyat kecil yang hidupnya terpinggirkan pembangunan, tetapi tetap percaya bahwa pendidikan, kerja keras, dan harga diri mampu mengubah nasib.

Menurut Rano, sinetron Si Doel yang tayang pada dekade 1990-an ternyata berjalan beriringan dengan situasi politik Indonesia ketika rakyat kecil yang menginginkan perubahan justru menghadapi tekanan kekuasaan.

Baca juga :