Amir Sjarifuddin: Bendahara yang Mengelola Dana, Menyumbang Gagasan

Nama Amir sering kali hanya disebut sebagai "Bendahara" dalam daftar susunan panitia
Sabtu, 17 Oktober 2026 04:08 WIB Jurnalis - Ali Imron

ASRAMA pelajar di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, pertengahan 1928. Di salah satu kamar, seorang pemuda berusia 21 tahun duduk di meja kayu. Di depannya, buku-buku hukum dan catatan-catatan keuangan berserakan. Namanya Amir Sjarifuddin Harahapatau yang lebih dikenal sebagai Amir Sjarifuddin. Ia baru saja dipercaya sebagai Bendahara dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II, mewakili Jong Bataks Bond. Tugasnya bukanlah berbicara di mimbar atau merumuskan teks ikrar. Tugasnya adalah memastikan bahwa kongres itu bisa berjalansecara finansial.

Di antara nama-nama besar seperti Soegondo, Yamin, dan Djoko Marsaid, nama Amir sering kali hanya disebut sebagai Bendahara dalam daftar susunan panitia. Namun, di balik jabatan yang tampak administratif itu, tersimpan kisah tentang seorang pemuda cerdas, orator ulung, dan pemain biola yang kelak menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Ia adalah arsitek Sumpah Pemuda yang mengelola dana kongres, tetapi juga otak yang menyumbang gagasan-gagasan penting bagi perumusan ikrar. Seperti yang ditulis Ahmad Syafii Maarif dalam Republika, Amir Sjarifuddin adalah salah seorang otak Sumpah Pemuda 1928.

Dari Medan ke Leiden: Pendidikan Seorang Pemikir
Amir Sjarifuddin lahir pada 27 April 1907 di Medan, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga Batak yang mampu, dan sejak kecil ia telah mengecap pendidikan Belanda di Europeesche Lagere School (ELS) Medan sekitar pertengahan 1910-an. Pada Desember 1915, ia tercatat masuk sekolah dasar di Sibolga dan menyelesaikan pendidikan dasarnya pada 1921.

Kecerdasannya sudah terlihat sejak muda. Ia fasih dalam beberapa bahasa asing, antara lain Yunani klasik, Latin, Prancis, dan Inggris. Ia juga pembaca sastra dan berbakat dalam berorganisasi. Setelah lulus dari pendidikan dasar, atas tawaran saudara sepupunya, T.S.G. Mulia, yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad, Amir melanjutkan sekolahnya ke Leiden, Belanda.

Di Leiden, ia memasuki Stedelijk Gymnasiumsekolah non-agama. Pada September 1925, ia pindah ke Stedelijk Gymnasium di Haarlem. Selama periode 19261927, ia aktif sebagai anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem, dan sering terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok Kristen. Menurut kawan sekolahnya, Amir ingin mengenal kebudayaan dan pemikiran Belanda dengan baik, karena ia akan melawan mereka dengan budaya dan pemikiran itu untuk membebaskan negerinya.

Baca juga :