Ikuti Kami

Keresahan Sosial dan Ekonomi Berpotensi Jadi Titik Temu Bangun Solidaritas Digital

“Berbagai keresahan yang muncul di media sosial menunjukkan bahwa banyak masyarakat menghadapi persoalan yang serupa."

Keresahan Sosial dan Ekonomi Berpotensi Jadi Titik Temu Bangun Solidaritas Digital
Bendahara DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Ganisa Pratiwi Rumpoko.

Kota Batu, Gesuri.id - Bendahara DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Ganisa Pratiwi Rumpoko, menilai keresahan masyarakat terhadap kondisi sosial dan ekonomi dapat menjadi titik temu untuk membangun solidaritas lintas kelompok melalui media sosial. 

Namun, ia menegaskan percakapan di ruang digital harus ditindaklanjuti dengan gerakan nyata agar mampu mendorong perubahan dan mewujudkan kehidupan yang lebih adil.

“Berbagai keresahan yang muncul di media sosial menunjukkan bahwa banyak masyarakat menghadapi persoalan yang serupa. Perbedaan profesi, latar belakang, dan pilihan politik tidak menghilangkan kenyataan bahwa kita sama-sama menginginkan kehidupan yang lebih baik,” kata Ganis.

Menurut Ganis, fenomena tersebut terlihat dari berbagai pengalaman masyarakat yang ramai diperbincangkan di media sosial. Mulai dari antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hingga kisah seorang dosen yang harus menjadi pengemudi ojek daring untuk memenuhi kebutuhan hidup akibat pemotongan sejumlah tunjangan.

“Keresahan yang awalnya dirasakan secara personal ternyata juga dialami banyak orang. Ketika pengalaman-pengalaman itu saling terhubung, muncul kesadaran bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya masalah individu, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial dan kebijakan publik,” tuturnya.

Ia menjelaskan, algoritma media sosial memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai pengalaman tersebut. Konten yang memperoleh perhatian dan interaksi dapat menjangkau lebih banyak orang sehingga persoalan yang sebelumnya tersembunyi berkembang menjadi percakapan publik.

Meski demikian, Ganis mengingatkan bahwa viralitas tidak selalu menghasilkan solidaritas. Media sosial juga berpotensi memperbesar konflik, menyebarkan informasi keliru, dan mengubah penderitaan menjadi tontonan.

“Viralitas membuat suatu persoalan terlihat, tetapi belum tentu membuat orang benar-benar peduli. Solidaritas membutuhkan empati dan kesediaan untuk bergerak bersama, sedangkan perubahan membutuhkan kerja yang berkelanjutan,” ucapnya.

Ganis juga menyoroti slogan No Viral, No Justice yang menggambarkan kekecewaan masyarakat ketika suatu persoalan seolah-olah baru memperoleh perhatian setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

“Jangan sampai akses terhadap keadilan bergantung pada seberapa viral suatu persoalan. Setiap warga negara berhak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang adil, termasuk mereka yang tidak memiliki kemampuan atau akses untuk menyuarakan masalahnya di media sosial,” ujarnya.

Ganis menilai tantangan terbesar koalisi digital adalah memastikan energi masyarakat tidak berhenti pada percakapan. Tagar dapat mengumpulkan banyak orang, tetapi belum tentu menghasilkan agenda bersama. Kritik dapat menyebar luas, tetapi belum tentu melahirkan alternatif kebijakan.

“Percakapan digital harus dilanjutkan dengan langkah konkret, mulai dari memeriksa fakta, mendengarkan kelompok yang terdampak, merumuskan tuntutan yang jelas, hingga mengawal kebijakan. Tanpa langkah-langkah tersebut, energi masyarakat berisiko berhenti pada kemarahan sesaat,” tuturnya.

Ia menambahkan, persatuan digital juga harus memberikan ruang bagi kelompok masyarakat yang selama ini kurang terdengar, seperti pekerja informal, masyarakat pedesaan, dan kelompok rentan.

“Persatuan tidak boleh hanya mewakili suara mereka yang aktif di media sosial. Pengalaman masyarakat yang tidak memiliki akses internet atau ruang untuk menyampaikan pendapat juga harus menjadi bagian dari percakapan publik,” jelasnya.

Menurut Ganisa, semangat persatuan yang diwariskan Kongres Pemuda 1928 tetap relevan bagi generasi saat ini. Jika dahulu para pemuda melampaui identitas kedaerahan untuk membayangkan Indonesia, generasi sekarang perlu membangun solidaritas di tengah perbedaan profesi, kelas sosial, dan pilihan politik.

“Belajar dari Kongres Pemuda, persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Persatuan justru berarti kemampuan mengelola perbedaan dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” ungkapnya.

Ganis menegaskan, media sosial dapat menjadi ruang awal untuk mempertemukan masyarakat, tetapi kekuatan perubahan ditentukan oleh kesadaran dan kerja bersama yang berkelanjutan.

“Algoritma mungkin mempertemukan kita dalam satu lini masa. Namun, hanya kesadaran, keberanian, dan kerja bersama yang dapat mengubah pertemuan itu menjadi kekuatan sosial. Bangsa menjadi kuat ketika masyarakat yang telah saling menemukan memutuskan untuk tidak membiarkan satu sama lain berjuang sendirian,” pungkasnya.

 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote