Biaya Rapat Sumpah Pemuda 250 Gulden Untuk Sewa Tempat, AKomodasi dan Sosialisasi

Biaya kongres tidak akan ditanggung oleh satu organisasi, melainkan oleh kira-kira tujuh organisasi peserta.
Minggu, 18 Oktober 2026 03:43 WIB Jurnalis - Ali Imron

Bayangkan sebuah meja kayu di ruang makan Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia, pada suatu pagi di bulan Agustus 1928. Di atas meja itu tidak ada naskah proklamasi, tidak ada teks ikrar yang akan mengguncang dunia. Yang ada hanyalah secarik kertas berisi hitungan-hitungan. Beberapa pemuda duduk mengelilinginya, dan angka yang tertulis di kertas itu adalah f 250,-dua ratus lima puluh gulden. Jumlah itu diperlukan untuk menyelenggarakan sebuah kongres yang belum tentu berhasil: sewa tiga tempat, biaya sosialisasi, dan akomodasi.

Di sinilah letak salah satu bagian paling jarang dibicarakan dari sejarah Sumpah Pemuda. Kita hafal bunyi ikrarnya, kita kenal nama-nama perumusnya, tetapi kita hampir tidak pernah bertanya: dari mana uangnya? Padahal, jawaban atas pertanyaan itu justru membuka jendela ke dalam cara berpikir para pemuda 1928. Sebelum mereka bersedia mengikrarkan satu bangsa, mereka terlebih dahulu harus membuktikan bahwa mereka bisa membiayai diri sendiritanpa subsidi kolonial, tanpa belas kasihan siapa pun.

250 Gulden dan Kenyataan yang Harus Dihadapi
Hitungan f 250 itu bukanlah angka yang lahir dari ruang hampa. Ia muncul dalam pertemuan di Clubgebouw, ketika utusan dari Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Betawi, PPPI, dan Pemuda Indonesia duduk bersama membicarakan waktu, tempat, dan biaya kongres. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa kongres akan berlangsung pada Oktober 1928, selama satu hari dua malam, di tiga gedung yang letaknya berlainan.

Keputusan menggunakan tiga gedung bukanlah kemewahan. Ia adalah strategi bertahan. Satu gedung yang dipakai terus-menerus terlalu mencolok, terlalu mudah diawasi, dan terlalu mudah dibubarkan. Tiga gedung memungkinkan kongres berlangsung dalam rangkaian yang terpisah-pisah, lebih tenang, dan lebih sulit dipatahkan sekaligus. Namun, konsekuensinya jelas: biaya sewa berlipat. Uang f 250 itu harus menutup sewa Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw, ditambah biaya sosialisasi ke berbagai organisasi dan akomodasi bagi para utusan.

Untuk memahami beratnya angka itu, kita perlu sebuah pembanding. Di gedung yang samaKramat 106para pelajar yang tinggal di sana membayar 12,5 gulden per orang setiap bulan, dan jumlah itu setara dengan 40 liter beras pada masa itu. Artinya, f 250 bukan sekadar uang saku. Ia setara dengan dua puluh bulan sewa kamar seorang pelajar, atau delapan ratus liter berassebuah jumlah yang, bagi organisasi pemuda yang kasnya sering kosong, bukanlah perkara kecil.

Baca juga :