Johan Mohammad Cai: Peranakan Tionghoa yang Menjadi Jembatan Persatuan

Johan adalah satu-satunya peranakan Tionghoa yang duduk di kursi kepanitiaan inti sebuah posisi yang menunjukkan kepercayaan penuh
Sabtu, 17 Oktober 2026 04:18 WIB Jurnalis - Ali Imron

Di sebuah ruangan di Batavia pada tahun 1928. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Kongres Pemuda II, seorang pemuda berusia 26 tahun duduk di antara para aktivis dari berbagai organisasi. Namanya Johan Mohammad Caiatau yang juga dikenal sebagai Djohan Mohammad Tjai. Ia bukanlah pemuda Jawa, bukan pula pemuda Sumatra atau Ambon. Ia adalah peranakan Tionghoa yang memeluk Islam, seorang Muslim dari keturunan yang saat itu sering dipandang sebagai liyan di tanah Hindia Belanda. Namun, di ruangan itu, ia duduk sebagai Pembantu I dalam kepanitiaan Kongres Pemuda IIsebuah posisi yang menempatkannya di jantung persiapan lahirnya Sumpah Pemuda.

Kehadiran Johan dalam kepanitiaan itu bukanlah kebetulan. Ia adalah aktivis Jong Islamieten Bond (JIB)organisasi pemuda Islam yang berdiri pada 1 Januari 1925 sebagai rumah bagi pemuda Muslim terpelajar dari berbagai latar belakang etnis. JIB adalah organisasi yang, dalam banyak hal, melampaui batas-batas kesukuan. Ia tidak didirikan atas dasar daerah, melainkan atas dasar keyakinan. Dan Johanseorang peranakan Tionghoa Muslimadalah bukti hidup bahwa Islam bisa menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan.

Siapa Johan Mohammad Cai?
Johan Mohammad Cai lahir di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat, pada 30 Juli 1902. Ia meninggal di Jakarta pada 8 Maret 1981 pada usia 78 tahun. Dalam beberapa catatan, ia juga disebut sebagai Johan Mahmud Tjaja.

Latar belakang keluarganya tidak banyak terdokumentasi. Namun, yang jelas, ia adalah seorang peranakan Tionghoa yang memeluk Islamsebuah identitas yang pada masa itu tidak lazim. Dalam sebuah masyarakat yang masih terbagi oleh garis etnis dan agama, Johan memilih untuk berada di persimpangan. Ia tidak menanggalkan identitas Tionghoanya, tetapi ia juga tidak menjadikannya penghalang untuk menjadi bagian dari perjuangan kebangsaan.

Sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, sebagaimana dikutip dalam tulisan Abdurrahman Baswedan dan Kwee Thiam Hong dalam buku Sumpah Pemuda, menyebut Johan sebagai salah satu peranakan Tionghoa yang terlibat aktif di Kongres Pemuda. Ia bukan satu-satunya: ada juga Kwee Thiam Hong dari Jong Sumatranen Bond, Oey Kay Sing, John Liau Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Namun, Johan adalah satu-satunya peranakan Tionghoa yang duduk di kursi kepanitiaan intisebuah posisi yang menunjukkan kepercayaan penuh dari para pemuda dari berbagai organisasi.

Baca juga :