R.M. Djoko Marsaid: Wakil Ketua yang Membuka Rapat, Lalu Mengundurkan Diri

Djoko Marsaid adalah wakil ketua yang memastikan roda kongres tetap berputar ketika ketua berhalangan. Ia adalah penjaga kesinambungan
Sabtu, 17 Oktober 2026 04:11 WIB Jurnalis - Ali Imron

BAYANGKAN pagi hari, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop di Batavia. Udara masih sejuk, tetapi kursi-kursi kayu di dalam gedung itu sudah terisi oleh puluhan pemuda yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka menunggu. Ketua Kongres, Soegondo Djojopoespito, berhalangan hadir pada sesi pagi itu. Maka, seorang pemuda berusia 25 tahun berdiri dari kursi wakil ketua. Namanya Raden Mas Djoko Marsaidatau yang lebih dikenal sebagai R.M. Djoko Marsaid. Dengan suara tenang namun tegas, ia membuka rapat kedua Kongres Pemuda II.

Momen itu jarang disorot dalam narasi besar Sumpah Pemuda. Sejarah lebih sering menyebut Soegondo, Yamin, atau Supratman. Namun, di balik layar, Djoko Marsaid adalah wakil ketua yang memastikan roda kongres tetap berputar ketika ketua berhalangan. Ia adalah penjaga kesinambungansosok yang memimpin rapat ketika orang lain absen, dan yang kemudian mengambil keputusan sulit ketika prinsipnya diuji.

Siapa Djoko Marsaid?
Djoko Marsaid lahir di Malang, 29 Mei 1903, dengan nama lengkap Djokomarsaid Tirtodiningrat. Ia adalah putra Jawa dari keluarga ningratsebuah latar belakang yang memberinya akses pada pendidikan yang saat itu masih terbatas bagi pribumi. Setelah kebijakan Trias Politica membuka pintu pendidikan bagi anak bangsa, Djoko Marsaid menempuh studi di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah persiapan bagi calon pegawai bumiputera di Hindia Belanda.

Di OSVIA inilah, Djoko Marsaid mulai mengasah semangat kritis-nya. Ia bukan tipe pemuda yang menerima keadaan begitu saja. Ia membaca, berdiskusi, dan bergabung dengan Jong Javaorganisasi kepemudaan yang lahir dari rahim Tri Koro Dharmo. Di Jong Java, ia tumbuh menjadi aktivis yang dikenal berwibawa dan memiliki semangat juang tinggi.

Sebelum terjun ke dunia organisasi secara penuh, Djoko Marsaid sempat bekerja sebagai wartawan di Surabaya pada tahun 1926. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang terbiasa menyuarakan pendapat dan menuliskan gagasan. Ketika ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Jong Java, ia membawa serta seluruh pengalaman itukemampuan berorganisasi, ketajaman berpikir, dan keberanian untuk bersikap.

Baca juga :