Dari Gedung KJB untuk Indonesia: Pelajaran Toleransi dan Keberanian Politik Kaum Muda

Ada pula ruang-ruang pertemuan sederhana yang menjadi saksi lahirnya gagasan besar tentang persatuan bangsa. 
Jum'at, 16 Oktober 2026 17:00 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id - Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun melalui peperangan dan perundingan politik di gedung-gedung pemerintahan. Ada pula ruang-ruang pertemuan sederhana yang menjadi saksi lahirnya gagasan besar tentang persatuan bangsa.

Salah satunya adalah Gedung Katholieke Jongelingen Bond (KJB) di kawasan Katedral, Batavia, yang menjadi tempat berlangsungnya rapat pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Di tempat inilah para pemuda mulai merumuskan gagasan kebangsaan yang kelak menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Indonesia merdeka.

Sejarah yang dicatat Museum Sumpah Pemuda tersebut mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa dapat berawal dari keberanian anak muda untuk duduk bersama dan melampaui perbedaan.

Kongres Pemuda II tidak lahir secara tiba-tiba. Gagasan penyelenggaraannya digerakkan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi yang menghimpun pelajar dari berbagai daerah. Sebelum kongres berlangsung, para pemuda telah mengadakan pertemuan pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928 untuk membahas persiapan, kepanitiaan, agenda, tempat, dan pembiayaan.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa persatuan bukan sekadar slogan yang muncul dalam pidato, melainkan hasil dari proses panjang berupa dialog, perencanaan, dan kesediaan bekerja sama. Dengan kata lain, semangat kebangsaan membutuhkan organisasi yang tertata sekaligus visi yang melampaui kepentingan kelompok.

Baca juga :