Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan secara tegas mengoreksi narasi Kementerian UMKM yang dinilai cuci tangan dan mengambinghitamkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atas tingginya angka kredit macet.
Ia menekankan bahwa ketidakmampuan pelaku usaha mikro menyerap pasar bukan karena mereka tidak becus berbisnis, melainkan bukti nyata dari kegagalan negara dalam menciptakan ekosistem industri dan perdagangan yang sehat.
Baca:Kisah UnikGanjarPranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Tidak selayaknya menjatuhkan kesalahan kepada UMKM. Pola pikir ini yang harus diubah. Masalahnya tidak sesimpel UMKM diberi modal lalu gagal jualan. Ada variable intervening yang mencekik mereka: akses pasar yang dimonopoli, biaya logistik yang tidak masuk akal, dan UMKM kita terhimpit mati-matian oleh gempuran impor, katanya Senin (18/5) di Jakarta.
Menurutnya kegagalan penjualan produk UMKM karena lemahnya koordinasi lintas kementerian. Ketika Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, dan Bea Cukai membiarkan keran produk impor murah terbuka lebar, negara secara sadar telah membunuh daya saing produk lokal, lalu secara sepihak menyalahkan UMKM saat mereka gagal bayar utang.