Jakarta, Gesuri.id — Peringatan Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) Jawa Barat pada 10 Oktober 2026 menjadi ajang refleksi penting bagi industri media modern.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Barat, Dr. Hj. Ineu Purwadewi Sundari, S.Sos., M.M., menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat peran media dalam melestarikan budaya lokal sekaligus mendorong kemajuan daerah.
Mengusung tema “Transformasi Digital Penyiaran: Merawat Kearifan Lokal Menuju Jawa Barat Istimewa,” peringatan tahun ini menekankan pentingnya adopsi teknologi tanpa mengikis nilai-nilai tradisi.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Ineu menjelaskan bahwa disrupsi digital telah mengubah pola konsumsi media di masyarakat secara signifikan. Kehadiran berbagai platform berbasis internet membuat informasi dan hiburan kini dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Menurutnya, perubahan ini merupakan peluang emas bagi media daerah untuk menghadirkan konten yang lebih inovatif, beragam, dan relevan dengan kehidupan warga.
“Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan budaya Jawa Barat. Jangan sampai tradisi dan kesenian daerah hanya dikenal di lingkup terbatas. Melalui teknologi, kekayaan budaya ini bisa diperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat yang lebih luas,” ujar Ineu.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Dibutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan untuk mendokumentasikan serta mempublikasikan warisan daerah melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari radio, televisi, hingga media streaming berbasis internet.
Lebih lanjut, Ineu mendorong lembaga penyiaran untuk menyajikan konten kreatif bertema kesenian tradisional, bahasa daerah, sejarah, kuliner khas, hingga dinamika kehidupan pedesaan. Langkah ini dinilai tidak hanya bermuatan edukasi, tetapi juga berpotensi memikat wisatawan serta menggerakkan roda ekonomi kreatif di Jawa Barat.
“Budaya daerah harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital. Lembaga penyiaran perlu memberikan ruang lebih besar kepada seniman, budayawan, komunitas lokal, dan generasi muda untuk berkolaborasi meracik konten berkarakter Jawa Barat,” tambahnya.
Di samping isu kebudayaan, Ineu mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan profesionalisme jurnalistik. Di tengah pesatnya arus informasi, insan penyiaran dituntut untuk tetap menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan mendidik guna memicu literasi media di masyarakat.
Bagi Ineu, tolok ukur kualitas penyiaran tak sekadar dilihat dari canggihnya perangkat atau tingginya angka rating, melainkan dari besarnya manfaat yang dirasakan publik. Media harus menjadi wadah yang memperluas wawasan, mendukung pendidikan, dan menyuarakan aspirasi warga.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Menutup pernyataannya, Ineu mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, lembaga penyiaran, insan media, hingga komunitas budaya—untuk bersinergi membangun ekosistem penyiaran yang sehat dan berkelanjutan.
“Dengan penyiaran yang adaptif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik, kita bisa menjaga warisan leluhur sekaligus membawa kebudayaan Jawa Barat gaung di kancah nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Melalui transformasi digital yang berakar pada kearifan lokal, penyiaran daerah diharapkan mampu menjadi jembatan antara kemajuan teknologi, penguatan identitas daerah, dan pembangunan Jawa Barat yang istimewa.

















































































