Ikuti Kami

Dari Gesekan Biola hingga Meja Perundingan: Pelajaran Demokrasi dari Sumpah Pemuda

Para pemuda berkumpul membawa identitas organisasi masing-masing, sementara polisi kolonial mengawasi dari dekat.

Dari Gesekan Biola hingga Meja Perundingan: Pelajaran Demokrasi dari Sumpah Pemuda
Kongres Pemuda II - Foto: Kompas.com

ADA malam ketika sebuah lagu terdengar lebih berani daripada pidato politik. Di tengah pengawasan kolonial, W.R. Soepratman menggesek biolanya dan memperdengarkan Indonesia Raya kepada peserta Kongres Pemuda II.

Momen itu berlangsung pada rangkaian Kongres Pemuda II, 27–28 Oktober 1928. Lagu tersebut dimainkan secara instrumental karena situasi politik kolonial membuat penggunaan liriknya sangat sensitif. Muspada

Bayangkan suasananya. Para pemuda berkumpul membawa identitas organisasi masing-masing, sementara polisi kolonial mengawasi dari dekat. Di tengah ketegangan itu, sebuah biola justru menjadi medium untuk membicarakan Indonesia yang belum merdeka.

Soepratman tidak datang membawa pasukan atau jabatan politik. Ia membawa karya seni yang kemudian tumbuh menjadi simbol kebangsaan, menunjukkan bahwa perjuangan dapat menemukan jalannya melalui musik dan kebudayaan.

Menurut catatan Museum Sumpah Pemuda, para peserta bahkan meminta lagu tersebut dimainkan kembali setelah mendengarnya. Soepratman hanya memperdengarkannya sekali, tetapi melodi itu meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang hadir. Muspada

Keberanian Soepratman menjadi semakin berarti karena ia memahami risiko dari lagu yang dibawakannya. Beberapa tahun kemudian, pemerintah kolonial melarang Indonesia Raya diperdengarkan di muka umum karena dianggap mengganggu ketertiban kolonial. Muspada

Namun sejarah Sumpah Pemuda tidak hanya dibangun oleh mereka yang tampil di depan. Ada pula orang-orang yang bekerja memastikan sebuah kongres dapat berlangsung, mulai dari kepanitiaan, pembiayaan, tempat, hingga berbagai kebutuhan teknis.

Di antara nama penting itu terdapat Amir Sjarifuddin, yang dipercaya menjadi bendahara Kongres Pemuda II. Posisi tersebut mungkin tidak semeriah panggung pidato, tetapi tanpa pengelolaan organisasi dan sumber daya, sebuah gagasan besar sulit diwujudkan menjadi peristiwa sejarah. Muspada

Ada pula Sie Kong Lian, pemilik Gedung Kramat 106 yang kemudian menjadi Indonesische Clubgebouw. Gedung tersebut sejak 1927 digunakan berbagai organisasi pergerakan pemuda dan menjadi salah satu ruang penting bagi aktivitas kaum muda menjelang Kongres Pemuda II. Muspada

Di sinilah sejarah memberikan pelajaran yang sering terlupakan. Perubahan besar tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara, tetapi juga orang yang mampu mengurus detail, menyediakan ruang, mengelola sumber daya, dan memastikan pertemuan tetap berjalan.

Kongres Pemuda II sendiri bukan peristiwa yang lahir secara tiba-tiba. Sebelum Oktober 1928, para pemuda telah beberapa kali bertemu untuk membicarakan kepanitiaan, tempat, waktu, acara, hingga pembiayaan kongres. Muspada

Artinya, Sumpah Pemuda adalah hasil dari proses politik yang panjang. Ada perbedaan pandangan, latar belakang organisasi, kepentingan kelompok, dan tentu saja kebutuhan untuk berkompromi sebelum akhirnya menemukan titik temu.

Justru di situlah kedewasaan para pemuda 1928 layak direnungkan generasi sekarang. Mereka memiliki pilihan identitas yang beragam, tetapi mampu menemukan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kelompok masing-masing.

Mereka tidak menghapus perbedaan untuk menjadi Indonesia. Mereka membawa perbedaan itu ke sebuah ruang bersama, lalu mencari kesepakatan yang dapat diterima sebagai milik bersama.

Pada akhirnya, keputusan kongres dirumuskan dalam tiga gagasan besar: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Rumusan tersebut kemudian dikenal luas sebagai Sumpah Pemuda dan menjadi tonggak penting dalam sejarah pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia. Muspada

Karena itu, nasionalisme tidak seharusnya dipahami hanya sebagai keberanian meneriakkan nama Indonesia. Nasionalisme juga membutuhkan kemampuan mendengar, menghormati perbedaan, berdialog, dan menerima keputusan bersama.

Pelajaran tersebut terasa semakin relevan bagi Gen Z yang hidup dalam demokrasi elektoral. Berbeda pilihan politik adalah sesuatu yang wajar, tetapi perbedaan itu tidak semestinya mengubah sesama warga negara menjadi musuh.

Loyalitas politik juga seharusnya tidak mengalahkan loyalitas kepada Indonesia. Kita boleh mendukung calon, partai, atau gagasan politik tertentu dengan penuh keyakinan, tetapi setelah kontestasi selesai, kepentingan kebangsaan tetap harus ditempatkan di atas fanatisme kelompok.

Soepratman mengajarkan keberanian melalui seni. Amir menunjukkan pentingnya kerja organisasi, sementara ruang yang disediakan Sie Kong Lian memperlihatkan bahwa sebuah perjuangan membutuhkan tempat untuk bertemu dan bertukar pikiran.

Maka, warisan terbesar Kongres Pemuda II bukan hanya sebuah lagu atau sebuah ikrar. Warisan itu adalah cara sebuah generasi berbeda-beda belajar menemukan persatuan, mengelola perbedaan, dan menyepakati masa depan bersama—sebuah pelajaran yang tetap penting bagi Indonesia hari ini.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote