Ikuti Kami

Kewarganegaraan Digital dan Adopsi Teknologi Secara Kritis

Tanpa literasi yang baik, masyarakat mudah terjebak dalam misinformasi, propaganda, dan polarisasi yang bisa merusak kualitas demokrasi.

Kewarganegaraan Digital dan Adopsi Teknologi Secara Kritis
Anggota DPRD Kota Bandung dari PDI Perjuangan sekaligus Ketua Karang Taruna Kota Bandung, Andri Gunawan.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Kota Bandung dari PDI Perjuangan sekaligus Ketua Karang Taruna Kota Bandung, Andri Gunawan, mendorong generasi Z (Gen Z) dan milenial untuk menguasai media digital sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat, menangkal disinformasi, serta menjaga kualitas demokrasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

"Tanpa literasi yang baik, masyarakat mudah terjebak dalam misinformasi, propaganda, dan polarisasi yang bisa merusak kualitas demokrasi. Karena itu, pendidikan politik berbasis teknologi harus diperluas, bukan hanya melalui sekolah formal, tetapi juga lewat komunitas, organisasi pemuda, dan lembaga masyarakat," jelasnya, Jumat (23/10/2026).

Menurut Andri, kemampuan menggunakan teknologi secara kritis menjadi semakin penting karena ruang digital kini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya kalangan muda. Media sosial dan berbagai platform digital tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran informasi, pembentukan opini publik, hingga partisipasi politik.

Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran suatu konten, serta memahami risiko penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Kemampuan tersebut menjadi modal penting agar anak muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu berperan sebagai warga digital yang bertanggung jawab.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam berbagai survei mengenai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi menunjukkan tingginya akses internet di kalangan masyarakat usia muda. Penetrasi internet yang telah berada pada kisaran di atas 85 hingga 90 persen di sejumlah kelompok pengguna muda, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan, menunjukkan bahwa generasi muda merupakan salah satu kelompok pengguna internet paling aktif.

Tingginya penggunaan internet tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru. Anak muda menjadi kelompok yang memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi juga menghadapi risiko terpapar hoaks, misinformasi, propaganda digital, dan polarisasi politik.

Dalam konteks tersebut, gagasan "Digital Citizenship & Critical Tech Adoption" menjadi relevan. Teknologi perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai alat konsumsi pasif, melainkan sebagai sarana untuk membangun partisipasi publik, melakukan kontrol sosial, melawan hoaks, dan melahirkan inovasi yang tetap berlandaskan etika.

Gerakan literasi digital yang melibatkan para pegiat muda melalui jaringan relawan Siberkreasi menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kecakapan tersebut. Di sisi lain, muncul pula kelompok tech-enthusiast muda yang mengembangkan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk untuk mendukung pendidikan publik dan meningkatkan transparansi anggaran.

Perkembangan tersebut menunjukkan teknologi dapat dimanfaatkan secara lebih produktif untuk kepentingan masyarakat. AI, misalnya, tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan konten, tetapi juga dikembangkan sebagai alat bantu untuk mengolah informasi, memperluas akses pengetahuan, dan membantu masyarakat memahami isu-isu publik yang kompleks.

Ruang digital pun dapat dipandang sebagai metamorfosis dari ruang pertemuan dan mimbar pemuda pada masa lalu. Jika generasi muda pada 1928 menggunakan ruang pertemuan untuk menyuarakan gagasan persatuan, generasi muda saat ini memiliki ruang digital yang jauh lebih luas untuk menyebarkan narasi persatuan, membangun kecerdasan berbangsa, dan memperkuat partisipasi masyarakat.

Namun, luasnya ruang digital juga harus diimbangi dengan tanggung jawab. Kemampuan teknologi tanpa etika berpotensi melahirkan persoalan baru, mulai dari penyebaran berita palsu, manipulasi informasi, hingga penggunaan AI untuk menghasilkan konten yang menyesatkan.

Karena itu, penguatan literasi digital perlu berjalan beriringan dengan pendidikan politik dan pembentukan karakter warga digital. Komunitas pemuda, organisasi kemasyarakatan, sekolah, dan lembaga publik memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.

Andri menilai generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu didorong menjadi pencipta solusi dan penggerak perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan publik.

Dengan penguasaan media digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemanfaatan AI secara etis, Gen Z dan milenial diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam menjaga kualitas ruang publik. Teknologi pada akhirnya bukan hanya soal kecanggihan, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat masyarakat, demokrasi, dan persatuan.

 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote