Jakarta, Gesuri.id - Bupati Trenggalek sekaligus politisi PDI Perjuangan, Muhammad Nur Arifin atau Mas Ipin, menantang generasi muda yang lantang mengritik pemerintah di media sosial agar berani terlibat langsung dalam pemerintahan. Menurutnya, semangat perubahan tidak cukup diwujudkan melalui kritik, tetapi harus disertai tindakan nyata, kolaborasi, dan keberanian mengambil tanggung jawab demi masa depan bangsa.
"Sekarang ini banyak anak muda yang sudah mulai menjadi pengamat politik yang handal, sedikit-sedikit mengkritik pemerintah, kritik ekonomi lagi sulit, ya mungkin kenyataannya seperti itu. Tapi kalau kamu memang ‘gentle’, kan negara ini bukan perkara urusannya presiden, wakil presiden, dan menteri, 'Kalau aku bisa kritik pemerintah, kenapa aku enggak masuk menjadi pemerintahan itu sendiri?'," seru Arifin.
Mas Ipin menilai kritik terhadap persoalan ekonomi, kebijakan publik, dan kinerja pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun, ia mendorong anak muda untuk tidak berhenti pada komentar dan perdebatan di ruang digital. Generasi muda perlu berani memasuki ruang pengambilan keputusan agar dapat ikut merumuskan solusi atas berbagai persoalan yang mereka soroti.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Merah Muda Kolaboratif, yakni mendorong generasi muda membangun kerja sama lintas latar belakang, menyatukan gagasan, dan mengubah kritik menjadi gerakan yang menghasilkan perubahan. Sementara itu, semangat Merah Muda Inklusif menekankan pentingnya membuka ruang partisipasi yang setara bagi setiap anak muda untuk berkontribusi, tanpa dibatasi latar belakang sosial maupun pengalaman.
Bagi Mas Ipin, keterlibatan anak muda bukan semata-mata soal mengejar jabatan politik. Lebih dari itu, generasi muda perlu mengambil tanggung jawab atas masa depan bangsa. Perubahan membutuhkan bukan hanya mereka yang mampu menunjukkan kekurangan, tetapi juga orang-orang yang bersedia bekerja bersama untuk memperbaikinya.
Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia seharusnya tidak membuat anak muda apatis. Sebaliknya, kekurangan yang ada dapat menjadi ruang bagi lahirnya gagasan baru, kepemimpinan yang lebih terbuka, serta tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
"Kalau Indonesia sekarang masih ada jeleknya, masih ada kurangnya, sudah syukuri saja, karena itu berarti kita masih punya kesempatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Kalau kalian bisa melakukan perbaikan-perbaikan, maka pahlawan Indonesia ini bukan hanya Soekarno dan Hatta," ucap Muhammad Nur Arifin, atau akrab dipanggil Mas Ipin.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kontribusi bagi bangsa tidak berhenti pada perjuangan para tokoh kemerdekaan. Di masa kini, generasi muda juga memiliki kesempatan mencatatkan pengabdian melalui kerja nyata, baik di pemerintahan, organisasi masyarakat, maupun berbagai bidang pelayanan publik.
Semangat kepahlawanan modern itu juga membutuhkan solidaritas sosial dan kepemimpinan setara. Anak muda dari beragam latar belakang perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta terlibat dalam upaya menyelesaikan persoalan masyarakat. Kolaborasi yang inklusif memungkinkan perbedaan pengalaman dan pandangan menjadi kekuatan untuk menghasilkan kebijakan yang lebih responsif.
Mas Ipin sendiri meniti karier politik sejak usia muda. Pria kelahiran Surabaya, 7 April 1990, tersebut dilantik sebagai Wakil Bupati Trenggalek pada 2016 ketika berusia 25 tahun. Saat itu, ia memperoleh Rekor MURI sebagai wakil bupati termuda di Indonesia.
Pengalaman tersebut menjadi konteks bagi ajakannya agar anak muda tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mengambil tanggung jawab. Masa muda, menurutnya, merupakan kesempatan untuk mencoba, belajar, membangun jejaring, dan mengembangkan kemampuan melalui pengalaman, termasuk ketika menghadapi kegagalan.
"Anak muda itu makhluk yang paling 'nothing to lose'. Kalian buat gagal di usia muda, orang bakal maklum. Jadi maksudnya kalau kita melakukan sesuatu di usia muda, itu momennya pas untuk kita bertumbuh," ucap Arifin.
Pesan itu menjadi dorongan bagi generasi muda untuk mengubah keberanian berbicara menjadi keberanian bertindak. Kritik perlu diikuti kemauan memahami proses pemerintahan, menyusun gagasan yang dapat dijalankan, membangun kolaborasi, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Dalam semangat Merah Muda Kolaboratif dan Merah Muda Inklusif, partisipasi anak muda tidak seharusnya didominasi oleh kelompok tertentu. Ruang perubahan perlu terbuka bagi semua, dengan mengedepankan solidaritas sosial, kesempatan yang setara, dan kemauan bekerja bersama demi kepentingan publik.
Mas Ipin pada akhirnya mengajak generasi muda untuk tidak hanya mempertanyakan mengapa pemerintah belum mampu menyelesaikan persoalan, tetapi juga mulai memikirkan kontribusi yang dapat mereka berikan. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh mereka yang sedang memegang jabatan, tetapi juga oleh generasi yang berani mengambil peran, merangkul perbedaan, dan bekerja bersama untuk mewujudkan perubahan.
Catatan penyuntingan: Kutipan langsung dipertahankan sesuai naskah sumber, termasuk penggunaan kata tidak baku di dalam kutipan. Tema Merah Muda Kolaboratif dan Merah Muda Inklusif dimasukkan sebagai sudut pandang penguat artikel, melalui penekanan pada kerja sama lintas latar belakang, solidaritas sosial, partisipasi setara, dan kepemimpinan yang terbuka.
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































