Ikuti Kami

Syahrul Arsyad: Anak Muda Perlu Ruang Aman Untuk Bicara Kesehatan Mental

“Kita perlu membangun lingkungan yang membuat anak muda merasa aman untuk bercerita."

Syahrul Arsyad: Anak Muda Perlu Ruang Aman Untuk Bicara Kesehatan Mental
Kader PDI Perjuangan, Syahrul Arsyad. (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Kesehatan mental menjadi salah satu tantangan yang semakin penting bagi anak muda di tengah tekanan kehidupan yang terus berubah. Persaingan di dunia kerja, kondisi ekonomi, tuntutan untuk berprestasi, hingga tekanan dari media sosial dapat memicu kecemasan, kelelahan emosional, bahkan burnout. Karena itu, anak muda membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita, didengarkan, dan mendapatkan dukungan tanpa merasa dihakimi.

“Kita perlu membangun lingkungan yang membuat anak muda merasa aman untuk bercerita. Masalah kesehatan mental bukan tanda seseorang lemah. Justru keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja merupakan langkah penting untuk mendapatkan bantuan,” kata Kader PDI Perjuangan, Syahrul Arsyad, Minggu (25/10/2026).

Menurut Syahrul, kehadiran platform kesehatan mental dan komunitas dukungan sebaya dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu anak muda menghadapi persoalan tersebut. Melalui platform yang mudah diakses, anak muda dapat memperoleh informasi mengenai kesehatan mental sekaligus menemukan ruang untuk berbagi pengalaman dengan orang lain yang memiliki persoalan serupa.

Komunitas dukungan sebaya juga dinilai penting karena tidak semua anak muda merasa nyaman langsung berbicara dengan keluarga atau tenaga profesional. Dalam komunitas yang sehat dan terkelola dengan baik, mereka dapat saling mendengarkan, berbagi pengalaman, serta memberikan dukungan tanpa menghakimi.

“Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat yang panjang. Mereka hanya ingin didengarkan dan merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Dari sinilah komunitas dukungan sebaya bisa memiliki peran yang besar,” ujar Syahrul.

Ia mengatakan, persoalan kecemasan dan burnout pada anak muda tidak dapat dilepaskan dari tekanan kehidupan sehari-hari. Kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, sulitnya mendapatkan pekerjaan, persaingan yang semakin ketat, serta tuntutan untuk terus mengikuti perkembangan zaman dapat membuat anak muda merasa harus selalu produktif.

Di sisi lain, media sosial juga dapat memperbesar tekanan tersebut. Anak muda setiap hari melihat pencapaian, gaya hidup, pekerjaan, maupun kesuksesan orang lain. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi itu dapat menimbulkan kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

“Media sosial seharusnya menjadi alat untuk terhubung dan mendapatkan informasi, bukan menjadi ukuran nilai diri seseorang. Kita tidak boleh menganggap kehidupan orang lain di media sosial sebagai gambaran kehidupan yang sepenuhnya nyata,” kata Syahrul.

Menurut dia, mengatasi kecemasan dan burnout membutuhkan keseimbangan antara tuntutan kehidupan dan kemampuan diri. Anak muda perlu belajar mengenali batas kemampuan, memberikan waktu untuk beristirahat, mengurangi paparan media sosial ketika mulai menimbulkan tekanan, serta membangun hubungan sosial yang sehat.

Namun, Syahrul menekankan bahwa persoalan kesehatan mental tidak selalu dapat diselesaikan seorang diri. Jika rasa cemas, kelelahan, atau tekanan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog, konselor, atau tenaga profesional merupakan langkah yang wajar dan tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.

“Meminta bantuan bukan berarti kita gagal. Justru itu bagian dari upaya menjaga diri. Sama seperti ketika tubuh sakit dan kita mencari dokter, kesehatan mental juga perlu mendapatkan perhatian yang sama,” tuturnya.

Ia juga mengajak anak muda untuk mengubah cara pandang terhadap persoalan kesehatan mental. Menurutnya, stigma bahwa seseorang yang mengalami masalah mental adalah lemah harus dihilangkan secara bersama-sama.

Perubahan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga, teman, komunitas, sekolah, kampus, hingga tempat kerja perlu menciptakan budaya yang lebih terbuka terhadap pembicaraan mengenai kesehatan mental.

“Jangan mudah mengatakan ‘kamu kurang kuat’ atau ‘jangan terlalu dipikirkan’ ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Kita bisa mulai dengan mendengarkan, memahami, dan menanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu,” kata Syahrul.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, ia menilai solidaritas antaranak muda menjadi semakin penting. Mereka dapat saling mengingatkan untuk menjaga keseimbangan hidup, mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna, serta tidak ragu mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan yang sulit.

Syahrul berharap semakin banyak ruang aman dan komunitas yang dapat diakses anak muda. Ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk membicarakan masalah, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri, memperluas pertemanan, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

“Anak muda tidak harus menghadapi semua tekanan sendirian. Yang kita butuhkan adalah lingkungan yang saling mendukung, ruang yang aman untuk berbicara, dan keberanian untuk mencari bantuan ketika diperlukan,” pungkasnya.

 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote