Ikuti Kami

Pengejawantahan Sumpah Pemuda Memastikan Persatuan Sebagai Embrio Keadilan, Kesejahteraan, dan Kesetaraan

Tantangan pemuda Indonesia saat ini bukan lagi semata-mata mempersatukan identitas kebangsaan.

Pengejawantahan Sumpah Pemuda Memastikan Persatuan Sebagai Embrio Keadilan, Kesejahteraan, dan Kesetaraan
Sekretaris Cabang Taruna Merah Putih Jakarta Timur, Anton Panel. (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Sekretaris Cabang Taruna Merah Putih Jakarta Timur, Anton Panel, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui upaya nyata untuk memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Menurutnya, persatuan bangsa tidak cukup hanya menjadi slogan atau peringatan sejarah, tetapi harus tercermin dalam pembangunan yang inklusif, penguatan demokrasi, serta keterlibatan aktif generasi muda dalam menentukan arah masa depan bangsa.

“Menurut saya, tantangan pemuda Indonesia saat ini bukan lagi semata-mata mempersatukan identitas kebangsaan, melainkan memastikan bahwa persatuan tersebut menghasilkan keadilan, kesejahteraan, dan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat,” kata Anton dalam refleksinya mengenai makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda saat ini, pada Kamis (22/10/2026).

Anton menilai, Sumpah Pemuda merupakan tonggak kesadaran kolektif bahwa keberagaman suku, agama, bahasa, dan latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan dalam membangun Indonesia sebagai satu bangsa. Karena itu, semangat yang lahir pada 1928 harus terus diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan kebangsaan yang berkembang saat ini.

Ia menekankan generasi muda perlu melampaui romantisme sejarah dengan meneruskan keberanian para pendahulu dalam menghadapi tantangan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang melawan kolonialisme, generasi sekarang dihadapkan pada persoalan ketimpangan, keterbatasan akses pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, kesenjangan pembangunan antardaerah, serta disrupsi teknologi dan arus informasi.

“Persatuan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Persatuan harus terasa dalam kehidupan masyarakat. Persatuan yang sejati adalah ketika anak muda di kota maupun di pelosok memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang; ketika perbedaan pandangan politik tidak berubah menjadi permusuhan; dan ketika kemajuan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dirasakan oleh masyarakat luas,” ungkapnya.

Anton menegaskan, generasi muda memiliki tanggung jawab strategis dalam mendorong pembangunan nasional. Menurutnya, pemuda tidak seharusnya hanya menjadi penerima manfaat program pembangunan atau pelengkap dalam kegiatan seremonial, tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan, penyampaian kritik, dan pengembangan gagasan baru.

Ia juga memandang kritik yang disampaikan generasi muda sebagai bagian dari kecintaan terhadap bangsa. Budaya politik kepemudaan, katanya, perlu dibangun dengan mengedepankan apresiasi terhadap keberhasilan, keberanian mengoreksi kekurangan, dan kemampuan menawarkan solusi yang konstruktif.

“Bagi saya, kritik dari pemuda merupakan bagian penting dari kecintaan terhadap bangsa. Kritik bukan berarti menolak pembangunan, sebagaimana dukungan juga tidak berarti harus kehilangan daya kritis. Kita perlu membangun budaya politik kepemudaan yang mampu mengapresiasi keberhasilan, mengoreksi kekurangan, dan menawarkan alternatif yang konstruktif,” tegas Anton.

Menurutnya, demokrasi akan berkembang lebih sehat apabila generasi muda berani menyampaikan pendapat berdasarkan data, kepentingan publik, dan tanggung jawab kebangsaan. Dengan demikian, partisipasi pemuda tidak hanya menjadi sarana menyampaikan aspirasi, tetapi juga berkontribusi dalam memperbaiki kualitas kebijakan publik.

Dalam konteks organisasi kepemudaan, Anton menilai Taruna Merah Putih memiliki ruang untuk berkontribusi melalui pendidikan politik, penguatan wawasan kebangsaan, kaderisasi kepemimpinan, serta kegiatan sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia berharap organisasi kepemudaan dapat menjadi ruang pembelajaran demokrasi, tempat berkembangnya gagasan pembangunan, sekaligus penghubung antara aspirasi generasi muda dan proses pengambilan kebijakan. Namun, Anton mengingatkan bahwa organisasi pemuda juga perlu melakukan evaluasi terhadap peran dan kontribusinya. Aktivitas organisasi, menurutnya, tidak semestinya hanya meningkat ketika momentum politik atau peringatan hari besar nasional berlangsung.

Ia menilai, keberhasilan organisasi kepemudaan perlu dilihat dari kualitas kader, konsistensi kegiatan sosial, kemampuan menghasilkan gagasan yang relevan, serta dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Lebih lanjut, Anton menguraikan empat hal yang perlu menjadi perhatian dalam pembangunan Indonesia yang berorientasi pada masa depan generasi muda.

Pertama, pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan berkualitas, penguatan keterampilan, literasi digital, dan perluasan akses bagi generasi muda.

Kedua, penciptaan lapangan kerja yang layak serta dukungan terhadap kewirausahaan dan inovasi anak muda.

Ketiga, pemerataan pembangunan agar kesempatan untuk berkembang tidak ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan.

Keempat, penguatan demokrasi, integritas, dan partisipasi publik agar pembangunan berlangsung secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Anton juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan penguatan karakter kebangsaan. Menurutnya, generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan kepekaan sosial, etika, dan semangat gotong royong.

Ia menilai nasionalisme pada masa kini tidak cukup diukur melalui simbol atau slogan, tetapi harus diwujudkan dalam kontribusi nyata untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Anton menegaskan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa harus diterjemahkan menjadi komitmen untuk memperluas kesempatan, memperjuangkan keadilan, menjaga demokrasi, dan memastikan seluruh kelompok masyarakat mendapatkan manfaat pembangunan.

Menurutnya, generasi muda harus mengambil peran sebagai pelaku perubahan, bukan sekadar menjadi penonton dalam perjalanan sejarah bangsa. Keberhasilan memperingati Sumpah Pemuda, kata dia, semestinya diukur dari sejauh mana cita-cita persatuan mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagi saya, merawat Sumpah Pemuda berarti menjaga persatuan tanpa membungkam perbedaan, mendukung pembangunan tanpa kehilangan sikap kritis, serta memperjuangkan kemajuan tanpa meninggalkan kelompok yang paling membutuhkan perhatian,” ujarnya.

Ia berharap semangat Sumpah Pemuda terus menjadi landasan bagi generasi muda untuk membangun karakter, mengembangkan pemikiran kritis, mendorong inovasi, menjunjung demokrasi, dan memperkuat komitmen terhadap masa depan Indonesia. 

Anton menegaskan persatuan harus berjalan beriringan dengan keadilan dan partisipasi masyarakat agar pembangunan nasional dapat menghadirkan manfaat yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote