Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital, Erika Tansil, mendorong generasi muda membangun ekosistem kewirausahaan kopi yang menghubungkan petani, pelaku roastery, dan pemilik kedai kopi.
Melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi digital, ia ingin kopi Sulawesi Selatan memiliki identitas yang kuat serta mampu bersaing di pasar internasional.
“Saya percaya, salah satu jalan untuk mewujudkannya adalah dengan membangun ekosistem kewirausahaan yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang pasar global,” tulis Erika dalam gagasannya menyambut momentum Sumpah Pemuda.
Sebagai Ketua Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) Sulawesi Selatan, Erika ingin mempertemukan pemuda petani kopi, pelaku usaha sangrai kopi (roastery), dan pemilik kedai kopi (coffee shop) dalam satu ekosistem kolaborasi. Menurutnya, ketiga kelompok tersebut memiliki peran berbeda, tetapi dapat bergerak bersama untuk membangun masa depan kopi Sulawesi Selatan.
Pemuda petani berperan sebagai penghasil bahan baku, pelaku roastery mengolah biji kopi menjadi produk bernilai tambah, sedangkan pemilik kedai kopi menjadi bagian penting dalam memperkenalkan cita rasa kopi kepada konsumen.
Jika ketiganya terhubung dalam satu rantai nilai, industri kopi tidak hanya menghasilkan produk unggulan, tetapi juga membuka peluang usaha, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda.
Dari Kebun Lokal Menuju Pasar Internasional
Erika mendorong kolaborasi lintas pelaku usaha muda untuk menghasilkan produk kopi andalan Sulawesi Selatan yang memiliki identitas, kualitas, dan daya saing global. Ia ingin kopi daerah tidak hanya dikenal sebagai komoditas unggulan, tetapi juga mempunyai merek, karakter, dan cerita yang mampu menarik pasar internasional.
Melalui kolaborasi tersebut, pemuda petani diharapkan memperoleh akses pasar yang lebih luas. Sementara itu, pelaku roastery dapat mengembangkan inovasi pengolahan dan produk, sedangkan pemilik kedai kopi ikut memperkenalkan kopi daerah kepada konsumen yang lebih beragam.
Langkah berikutnya adalah membawa produk kopi hasil kolaborasi itu ke ajang International Coffee Show dan berbagai pameran kopi internasional yang relevan. Partisipasi tersebut diharapkan membuka peluang kemitraan, memperluas jejaring bisnis, dan memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Sulawesi Selatan kepada pasar dunia.
Bagi Erika, targetnya bukan sekadar membawa kopi ke luar negeri, melainkan membangun identitas kopi Sulawesi Selatan agar semakin dikenal, dihargai, dan memiliki posisi di pasar global.
Digitalisasi Rantai Pasok untuk Menciptakan Nilai Tambah
Selain memperkuat kolaborasi antarpelaku usaha, Erika menilai pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting dalam pengembangan industri kopi. Melalui konsep Collaborative Digital Supply Chain, petani, pelaku roastery, pemilik kedai kopi, dan konsumen dapat terhubung dalam rantai pasok yang lebih terintegrasi.
Digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemasaran, memperkenalkan asal-usul produk, meningkatkan transparansi informasi, serta memperkuat hubungan antara produsen dan pasar.
Ekosistem digital tersebut juga berpotensi membuka kesempatan kerja baru di berbagai bidang, mulai dari pengolahan kopi, pemasaran digital, desain kemasan, pengembangan merek, distribusi, hingga perdagangan internasional.
Dengan demikian, kopi dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda untuk membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.
Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda melalui Kewirausahaan
Erika menilai semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk membangun persatuan dalam kegiatan ekonomi. Baginya, persatuan tidak hanya dimaknai sebagai kebersamaan dalam perayaan, tetapi juga kesediaan untuk saling menguatkan, membuka akses, dan menciptakan kesempatan bagi sesama.
Ia mendorong generasi muda agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan lapangan kerja. Pemuda, menurutnya, harus mampu mengambil peran sebagai produsen dan pelaku usaha yang menghasilkan produk lokal berdaya saing, bukan hanya menjadi konsumen produk global.
Erika ingin melihat pemuda Sulawesi Selatan terlibat langsung dalam seluruh perjalanan industri kopi daerah, mulai dari kebun, pengolahan, kedai kopi, hingga pasar internasional.
Ia mengakui upaya tersebut membutuhkan kolaborasi, peningkatan kualitas, konsistensi produksi, akses pembiayaan, serta dukungan berbagai pihak. Namun, dengan visi bersama dan langkah yang terarah, potensi kopi daerah dinilai dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar.
Ketika pemuda petani, pelaku roastery, dan pemilik kedai kopi bergerak bersama, menurut Erika, yang dibangun bukan sekadar industri kopi, melainkan ekosistem kewirausahaan yang berakar pada potensi lokal dan berorientasi global.
Dari Sulawesi Selatan, ia ingin menunjukkan bahwa anak muda daerah mampu menciptakan produk unggulan, membangun merek, memperluas pasar, dan membawa kebanggaan Indonesia ke panggung dunia.
Pada momentum Sumpah Pemuda, Erika mengajak generasi muda memperbarui komitmen untuk membangun Indonesia melalui karya, inovasi, dan kewirausahaan. Kemandirian ekonomi, menurutnya, dimulai dari kemampuan mengolah potensi sendiri, menciptakan nilai tambah, dan membuka kesempatan agar lebih banyak orang dapat tumbuh bersama.
“Pemuda bersatu, petani berdaya. Pemuda berwirausaha, ekonomi daerah tumbuh. Kopi Sulawesi Selatan mendunia, Indonesia semakin berdaya.”
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































