Ikuti Kami

Beli Kendaraan Tempur Bekas, TB Hasanuddin Minta Pemerintah Cermati Biaya dan Keselamatan Amfibi AAV

“Alutsista yang dibeli bukan hanya soal harga akuisisi. Ada ongkos penggunaan yang harus disiapkan setiap tahun.”

Beli Kendaraan Tempur Bekas, TB Hasanuddin Minta Pemerintah Cermati Biaya dan Keselamatan Amfibi AAV
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah mencermati biaya siklus hidup (lifecycle cost) dan aspek keselamatan prajurit dalam pembelian kendaraan tempur amfibi Assault Amphibious Vehicle (AAV) dari Amerika Serikat. 

Menurutnya, biaya alutsista tidak berhenti pada harga akuisisi, tetapi juga mencakup biaya operasional, perawatan, perbaikan, hingga saat alutsista tersebut dipensiunkan.

“Alutsista yang dibeli bukan hanya soal harga akuisisi. Ada ongkos penggunaan yang harus disiapkan setiap tahun,” kata TB Hasanuddin, Rabu (30/9/2026).

TB Hasanuddin mengingatkan alutsista bekas berpotensi membutuhkan biaya perawatan yang lebih besar. Kondisi tersebut dapat terjadi karena suku cadangnya mungkin sudah tidak diproduksi atau sulit diperoleh, sementara suku cadang yang tersedia dapat berharga mahal.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhitungkan kebutuhan teknisi yang andal untuk mendukung proses perawatan dan perbaikan alutsista. Menurutnya, aspek keselamatan prajurit juga harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan pengadaan alutsista.

“Alutsista boleh canggih atau dibutuhkan secara strategis, tetapi jika aspek keselamatannya masih meragukan, pembeliannya sebaiknya ditunda sampai risikonya dapat dipastikan dan dimitigasi,” ucapnya.

Ia menambahkan, usia pakai platform menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai keselamatan alutsista bekas. Karena itu, penilaian terhadap kondisi teknis kendaraan perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum dimanfaatkan.

Terkait AAV, TB Hasanuddin menyoroti insiden pada 2020 yang menyebabkan Marinir Amerika Serikat menghentikan sementara operasional kendaraan tersebut. Insiden ranpur yang tenggelam itu menewaskan prajurit, dan hasil investigasi Marinir AS menyebut faktor mekanis turut berkontribusi.

Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi teknis, kebutuhan suku cadang, biaya perawatan, serta mitigasi risiko sebelum menentukan pemanfaatan hibah AAV tersebut.

Diketahui, kekuatan tempur Korps Marinir TNI Angkatan Laut mendapat tambahan kendaraan tempur amfibi. Sebanyak 12 unit kendaraan tempur (ranpur) amfibi Assault Amphibious Vehicle (AAV) gelombang pertama mendarat di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/9/2026).

Kedatangan 12 ranpur dari Amerika Serikat tersebut merupakan tahap awal dari total pengadaan 35 unit AAV.

Quote