Ikuti Kami

Krisis Air di Tumpang, Fraksi PDI Perjuangan  DPRD Kabupaten Malang Desak Perumda Tugu Tirta Bertanggung Jawab

Berkurangnya pasokan air dari Sumberpitu berdampak langsung terhadap keberlangsungan sektor pertanian warga setempat.

Krisis Air di Tumpang, Fraksi PDI Perjuangan  DPRD Kabupaten Malang Desak Perumda Tugu Tirta Bertanggung Jawab
Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarok.

Malang, Gesuri.id – Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarok, mendesak Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang untuk ikut bertanggung jawab atas krisis air irigasi yang mengancam para petani di Kecamatan Tumpang.

Desakan tersebut disampaikan Zulham usai mendampingi para petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sumber mata air Sumberpitu di Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang.

Menurut Zulham, berkurangnya pasokan air dari Sumberpitu berdampak langsung terhadap keberlangsungan sektor pertanian warga setempat. Para petani kini membayangi ancaman kekeringan hingga potensi gagal panen akibat debit air yang tak lagi mencukupi.

Baca: Ganjar Pranowo Akui Belajar Industri Kreatif dari K-POP

"Saya paham betul persoalan Sumberpitu ini karena sebelum menjadi anggota dewan, saya adalah advokat para petani," ujar Zulham, Jumat (9/10).

Ia mengungkapkan bahwa debit air di Sumberpitu mengalami penyusutan drastis. Berdasarkan data yang dihimpunnya, debit air yang pada tahun 2015 sempat mencapai 1.600 meter kubik per detik kini terus merosot.

Zulham menduga penampungan air yang dilakukan Perumda Tugu Tirta di sekitar lokasi menjadi salah satu faktor berkurangnya aliran air menuju saluran irigasi warga. Bahkan, dampaknya membuat dua embung penunjang pertanian mengering dan tak berfungsi selama bertahun-tahun.

Untuk mengatasi persoalan ini, ia mendorong Perumda Tugu Tirta agar mengambil langkah konkret dengan membangun infrastruktur penampung air, seperti embung baru atau sumur artesis.

"Penyediaan embung penting sebagai tempat penyimpanan air untuk menyokong lahan pertanian terdampak. Jika pembangunan embung tidak memungkinkan, penyediaan sumur artesis bisa menjadi solusi alternatif, terutama saat memasuki musim kemarau," paparnya.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Ia menegaskan, pemanfaatan sumber mata air tidak boleh hanya berfokus pada kebutuhan air minum perkotaan, melainkan juga harus memperhitungkan keberlanjutan pertanian masyarakat sekitar secara proporsional.

“Jika kedua solusi itu tidak dijalankan, kami siap mendampingi petani melakukan langkah apa saja, asal sawah mereka tidak kekeringan,” tegas Zulham.

Zulham berharap aspirasi para petani segera ditindaklanjuti melalui dialog dan penyusunan solusi konkret agar konflik distribusi air di Sumberpitu tidak berlarut-larut hingga mengancam produktivitas dan mata pencaharian warga Tumpang.

Quote