Jakarta, Gesuri.id - Mantan Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Pangandaran terkait penyelenggaraan peringatan hari jadi (Milangkala) ke-14. Jeje menilai Pemkab Pangandaran tidak memiliki kepekaan krisis di tengah ancaman kekeringan panjang dan krisis air bersih yang melanda masyarakat.
Sorotan tersebut mencuat menyusul klarifikasi pihak bupati terkait agenda perayaan, termasuk rencana pawai atau karnaval yang melibatkan jajaran dinas hingga pemerintah desa.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Jeje menyayangkan sikap bupati yang dianggapnya belum memahami regulasi serta dinamika riil di tingkat bawah. Di satu sisi, pemerintah daerah mendengungkan narasi efisiensi anggaran, namun di sisi lain tetap memaksakan agenda seremonial yang menyedot biaya.
”Miris saya lihat sikap bupati dalam mengklarifikasi milangkala, tidak faham regulasi dan dinamika. Soal karnaval, biaya dari mana? Dinas-dinas katanya efisiensi, terus desa-desa uang dari mana?” ujar Jeje, Kamis (8/10/2026).
Menurut Jeje, beban pembiayaan untuk memeriahkan pesta tersebut sangat tidak realistis. Jika memang tersedia alokasi anggaran di tingkat dinas maupun desa, dana tersebut seharusnya dialihkan secara konkret untuk meringankan beban masyarakat terdampak kemarau ekstrem.
”Kalau pun ada (anggarannya), mending buat kepentingan penanganan dampak kekeringan,” tegasnya.
Mantan orang nomor satu di Pangandaran itu juga menyoroti belum adanya langkah konkret dan terkoordinasi dari jajaran pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan kekeringan. Jeje mengaku heran lantaran belum melihat adanya rapat koordinasi (rakor) lintas sektoral yang fokus membedah krisis air. LayananPemda
Padahal, suplai kebutuhan dasar masyarakat di lapangan sudah mulai terganggu secara nyata.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
”Saya belum mendengar ada rakor penanganan kekeringan. Pantauan saya, PDAM juga mulai kekurangan air, artinya suplai air bersih terbatas,” ungkapnya.
Dengan perkiraan musim kemarau yang masih akan berlanjut hingga November atau Desember mendatang, Jeje menegaskan bahwa Pangandaran saat ini berada dalam kondisi krisis lingkungan dan kebutuhan dasar warga, bukan situasi yang tepat untuk berpesta.
”Info kemarau sampai November atau Desember, ini namanya krisis. Terus, kenapa harus ada pesta?” pungkas Jeje.

















































































