Semarang, Gesuri.id — Pemerintah Kota Semarang mulai mendorong pengembangan pertanian terpadu melalui Metode Bayu Sehat Mandiri (BSM). Konsep inovatif ini memadukan sektor tanaman, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem pengelolaan lahan yang terintegrasi.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan, program tersebut tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan produksi semata. Sejak awal, kepastian jalur pemasaran harus dipersiapkan agar komoditas yang dihasilkan warga memiliki jaminan penyerapan di pasar.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam Coaching Clinic dan Pelatihan Pertanian Terpadu Metode BSM di Balai Kota Semarang, Kamis (1/10). Kegiatan ini menghadirkan pakar pertanian terpadu Bayu Diningrat dan sekaligus menjadi ajang persiapan pendamping untuk mengikuti Training of Trainers (TOT).
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Menurut Agustina, konsep pertanian terpadu wajib dibangun secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Produksi tanaman, peternakan, dan perikanan harus berjalan beriringan dengan sistem pemasaran yang jelas.
“Keberhasilan dari pertanian terpadu, pertanian, ternak, dan perikanan itu juga harus disiapkan skema pasarnya. Jangan sampai hasil panennya sia-sia. Kita harus membangun jaringan dan menetapkan jaringan; kalau ada produk, harus ada pasar,” ujar Agustina.
Untuk mengawal hal tersebut, ia menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar segera menyusun pola kerja bersama yang mencakup proses produksi, pengelolaan hasil, hingga distribusi kepada konsumen. Salah satu jaringan awal yang disiapkan untuk menyerap produk masyarakat adalah program Kempling Semar, sebelum nantinya diperluas ke berbagai saluran distribusi lainnya.
Pemkot Semarang menargetkan proses pengajuan dan pemetaan lahan produktif dapat rampung pada Januari 2027, untuk kemudian mulai diterapkan pada Februari 2027. Program percontohan ini rencananya akan dievaluasi pada akhir 2027 sebagai dasar pengembangan lanjutan pada 2028.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Agustina menilai bahwa pertanian perkotaan memegang peranan vital dalam memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah dinamika lingkungan dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar program ini memberikan dampak nyata.
“Sekarang zamannya collab, kolaborasi. Kolaborasi yang memiliki impact, kolaborasi yang berdampak,” tegasnya.
Ia berharap Metode BSM dapat menjadi alternatif terbaik dalam mengelola lahan produktif di Kota Semarang, sekaligus menghubungkan aktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan dengan jaringan pasar yang jelas.
“BSM ini nanti memberi kita cara pandang yang baru dalam pengelolaan lahan yang terintegrasi. Ternak, tanaman, perikanan, disambung; kalau panen, nanti ke Kempling Semar, Pak Rahman, atau ke pasar manapun. Tapi ingat, pokoknya jangan sampai hasil panennya sia-sia,” pungkasnya.

















































































