Ikuti Kami

Jejak Pemuda di Pelataran Katedral: Menyalakan Keberanian Lintas Batas dan Kesadaran Bernegara

Mereka datang bukan untuk memperdebatkan iman atau asal-usul suku, melainkan untuk menenun satu cita-cita besar: Indonesia Merdeka.

Jejak Pemuda di Pelataran Katedral: Menyalakan Keberanian Lintas Batas dan Kesadaran Bernegara
Sumpah Pemuda di Gereja Katedral - Foto: KatedralJakarta.or.id

MALAM Sabtu, 27 Oktober 1928. Suasana Batavia diliputi udara dingin pasca-hujan sore, tetapi di dalam gedung Katholieke Jongelingen Bond (KJB)—yang berdiri kokoh di kawasan kompleks Gereja Katedral Jakarta—suasana hangat bergelora.

Menara katedral bergaya neogotik yang menjulang tinggi menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan anak muda dari berbagai pelosok nusantara.

Mereka datang bukan untuk memperdebatkan iman atau asal-usul suku, melainkan untuk menenun satu cita-cita besar: Indonesia Merdeka.

Mereka datang dari organisasi berbeda, dengan latar daerah, keyakinan, dan pengalaman yang beragam. Panitia kongres juga memperlihatkan keberagaman itu secara nyata.

Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, hingga Pemuda Kaum Betawi.

Johannes Leimena dari Jong Ambon duduk sebagai salah satu pembantu panitia kongres. Djohan Mohammad Tjaja dari Jong Islamieten Bond juga berada dalam kepanitiaan tersebut.

Mereka tidak berkumpul untuk menghapus perbedaan masing-masing. Mereka justru membawa perbedaan itu ke dalam sebuah ruang perundingan bersama.

Di ruang KJB, persatuan tidak lahir melalui keseragaman. Persatuan tumbuh karena anak-anak muda bersedia mendengarkan, menyampaikan gagasan, lalu mencari titik temu.

Gedung KJB malam itu menjadi panggung pembuka Kongres Pemuda II. Di bawah naungan panitia muda yang diketuai Sugondo Djojopuspito bersama jajaran pemuda progresif lainnya, rapat pertama digelar.

Sebuah keputusan historis dan berani: memilih gedung milik pemuda Katolik sebagai titik mula musyawarah nasional.

Pilihan ruang publik ini menegaskan sejak awal bahwa perjuangan menghadirkan Indonesia adalah ikhtiar inklusif, merobohkan tembok-tembok sekat perbedaan agama, suku, dan daerah.

Rapat dibuka dengan uraian Soegondo yang menekankan pentingnya memperkuat semangat persatuan di dalam sanubari pemuda. Setelah itu, Moehammad Yamin menyampaikan pidatonya tentang arti penting sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan bersama dalam mempererat persatuan bangsa.

Malam di pelataran Katedral malam itu tidak sekadar mencatat perdebatan pemikiran, tetapi merekam momen transformatif: bagaimana ruang lintas latar belakang dapat menjadi rahim bagi lahirnya kesadaran bernegara. Menghidupkan Refleksi: Keberanian Pemuda Kekinian

Mengenang rapat awal di Gedung KJB Katedral bukan hanya romantisme sejarah. Narasi ini memberikan pesan mendalam bagi kita hari ini, terutama bagi para pemilih pemula dan generasi muda yang memegang kendali masa depan bangsa.

Para pemuda pada tahun 1928 mengajarkan arti penting keberanian. Mereka berani keluar dari zona nyaman identitas kelompoknya, melintasi sekat dogma, dan duduk bersama merumuskan ideologi kebangsaan. Di tengah dinamika politik kontemporer dan gempuran polarisasi, nilai ini menjadi sangat aktual.

Kesadaran bernegara bagi anak muda zaman now cukup hanya diwujudkan dalam melek politik agar orang-orang yang dipilih melalui proses demokrasi untuk mengurus negara dan daerah bisa diisi oleh orang-orang pilihan dan ahli pada bidangnya.

Anak muda juga dituntut untuk memiliki keberanian menjaga ruang publik tetap terbuka, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Generasi muda hari ini adalah penentu arah kebijakan dan kualitas demokrasi bangsa.

Sebagaimana para perintis di Gedung KJB Katedral yang berani menentukan masa depan Indonesia sebelum negaranya ada, pemuda masa kini harus mengambil tanggung jawab dalam menentukan arah bangsa ini secara sadar, cerdas, serta berani melawan segala jenis penjajahan masa kini yakni: korupsi, merusak lingkungan, politik dinasti, melanggar konstitusi dan oligarki politik.

Mari jadikan jejak sejarah di pelataran Katedral ini sebagai pemantik untuk terus merawat persatuan, memperjuangkan keadilan, dan menyalakan keberanian menjaga masa depan Indonesia.

Sumber:

Museum Sumpah Pemuda mencatat rapat pertama Kongres Pemuda II berlangsung di Gedung KJB pada 27 Oktober 1928, beserta susunan panitianya.

https://muspada.kemenbud.go.id/sejarah-sumpah-pemuda/?utm_source=chatgpt.com

Keterangan tentang keterlibatan umat Katolik dan lokasi KJB di kompleks Katedral juga dikonfirmasi laman Katedral Jakarta dan Pemuda Katolik.

https://katedraljakarta.or.id/bangunan-dan-sejarah?utm_source=chatgpt.com

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

 

Quote