Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri Dorong Sabang Jadi Hub Maritim Strategis di Forum Ekonomi Biru China-ASEAN

"Lautan yang menghubungkan kita secara geografis kini harus menyatukan kita secara strategis."

Rokhmin Dahuri Dorong Sabang Jadi Hub Maritim Strategis di Forum Ekonomi Biru China-ASEAN
Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mendorong penguatan kerja sama ekonomi biru antara China dan ASEAN serta menawarkan Kota Sabang sebagai hub maritim strategis di kawasan Selat Malaka.

Gagasan itu disampaikan Prof. Rokhmin dalam forum China–ASEAN Blue Economy Cooperation Dialogue di Hainan, Minggu (10/5/2026).

"Lautan yang menghubungkan kita secara geografis kini harus menyatukan kita secara strategis. Ekonomi Biru bukan lagi sekadar aspirasi konseptual, melainkan kebutuhan operasional dalam memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya pesisir dan laut untuk menyediakan barang dan jasa, pekerjaan layak, serta kemakmuran manusia secara adil dan berkelanjutan," ujar Pendiri dan Peneliti Senior Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut, IPB University, dikutip Selasa (12/5/2026).

Dalam pidato utamanya, Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa konsep ekonomi biru sebagaimana dirumuskan Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut untuk menghasilkan produk, jasa, lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi inklusif dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem.

Menurutnya, lebih dari 70 persen permukaan bumi tertutup laut dan menyimpan potensi ekonomi sangat besar, mulai dari sektor perikanan, akuakultur, bioteknologi kelautan, energi, mineral, pariwisata bahari, hingga ekosistem karbon biru.

Ia menyebut ekonomi laut global saat ini menyumbang lebih dari USD 3,5 triliun per tahun dengan proyeksi pertumbuhan signifikan pada 2030.

"Potensi ekonomi biru dunia mencapai lebih dari USD 3,5 triliun per tahun, namun baru dimanfaatkan sekitar 40 persen. Kawasan China–ASEAN, dengan populasi lebih dari 2 miliar jiwa dan perdagangan melampaui USD 900 miliar, disebut sebagai koridor maritim paling dinamis di dunia," terangnya.

Prof. Rokhmin menilai kawasan China–ASEAN memiliki posisi strategis sebagai koridor ekonomi maritim paling dinamis di dunia karena didukung populasi besar dan volume perdagangan yang tinggi.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa potensi besar tersebut juga dibayangi berbagai persoalan serius seperti overfishing, polusi laut, degradasi habitat, hilangnya biodiversitas, hingga dampak perubahan iklim.

Karena itu, Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan DPP PDI Perjuangan itu mendorong kerja sama China–ASEAN difokuskan pada pengelolaan perikanan dan akuakultur berbasis data, pengembangan industri maritim rendah karbon, perlindungan ekosistem karbon biru, inovasi sains kelautan, transfer teknologi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara inklusif.

Dalam forum tersebut, Prof. Rokhmin juga menawarkan gagasan strategis menjadikan Kota Sabang sebagai kawasan perdagangan bebas maritim di pintu barat Selat Malaka.

Menurutnya, Sabang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat layanan maritim berbasis jasa, mulai dari perbaikan dan pemeliharaan kapal, logistik dan transshipment, stasiun pengisian bahan bakar, penyediaan kebutuhan kapal internasional, hingga kawasan industri maritim.

Meski demikian, ia menegaskan pengembangan Sabang harus dilakukan secara realistis dengan mengedepankan keunggulan komparatif dan bukan dijadikan titik geopolitik sensitif.

Karena itu, Indonesia disebut membuka peluang kemitraan strategis dengan berbagai investor global, termasuk dari China, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Menutup pidatonya, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia tersebut mengajak negara-negara China dan ASEAN memanfaatkan momentum kerja sama ekonomi biru untuk membangun kawasan maritim yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan bagi masa depan dunia.

Quote