Ikuti Kami

Tembok Ratapan Solo Rumah Jokowi, Aria Bima: Model Pengkultusan yang Tidak Direspons Gen Z

Berubahnya nama kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo menjadi Tembok Ratapan Solo di Google Maps.

Tembok Ratapan Solo Rumah Jokowi, Aria Bima: Model Pengkultusan yang Tidak Direspons Gen Z
Kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo menjadi Tembok Ratapan Solo di Google Maps.

Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi ll DPR RI, Aria Bima, menyoroti fenomena berubahnya nama kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo menjadi “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps. Ia menilai ekspresi publik di ruang digital merupakan bagian dari praktik demokrasi, namun tetap perlu disikapi secara bijak.

“Apakah itu mendukung Pak Jokowi atau menjerumuskan Pak Jokowi, kan kita juga nggak ngerti. Tapi intinya, demokrasi itu selain terkait pemilu yang jujur dan adil, juga kebebasan berpendapat, termasuk lewat media sosial yang sudah diatur UU ITE,” kata Aria Bima, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, dinamika yang terjadi di media sosial mencerminkan kebebasan berekspresi masyarakat. Namun demikian, ia juga menyinggung adanya gejala pengkultusan individu dalam politik yang dinilai belum tentu berdampak positif bagi figur yang bersangkutan.

“Model pengkultusan saya kira sudah tidak terlalu mendapatkan respons, terutama dari Gen Z. Sekarang kan tingkat ID partai saja menurun, sementara ID personal meningkat,” jelasnya.

Aria menilai telah terjadi pergeseran perilaku pemilih, khususnya di kalangan generasi muda. Ia menyebut pendekatan berbasis figur semata tidak lagi cukup efektif, karena publik kini lebih rasional dan kritis dalam menilai kepemimpinan.

“Saya melihat bentuk-bentuk ekspresi kepada siapa pun, tidak hanya Pak Jokowi, mulai sekarang ke arah meritokrasi dan hal-hal yang menyangkut visi misi seorang pemimpin untuk bangsa ini ke depan seperti apa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan adanya potensi bahaya dari pengkultusan berlebihan di media sosial. Dalam istilah Jawa, ia menyebut praktik tersebut bisa menjadi upaya “menjolomprongke” atau justru menjerumuskan seseorang agar menjadi sasaran hujatan publik.

“Tiba-tiba ada orang yang memberikan kultus yang begitu besar, banyak menjolomprongke—orang Jawa bilang—biar jadi hujatan publik. Jadi saya tidak berkomentar mengenai informasi dari media sosial kecuali berita dari media mainstream,” ungkapnya.

Sebelumnya, kediaman mantan Presiden RI, Joko Widodo, di kawasan Sumber, Solo, memicu diskusi publik setelah titik koordinatnya di Google Maps mendadak berubah nama menjadi “Tembok Ratapan Solo.” Fenomena tersebut ramai diperbincangkan warganet dan memunculkan beragam spekulasi di ruang digital.

Quote