Solo, Gesuri.id – KGPAA Mangkunegara X menganugerahkan kekancingan atau gelar kehormatan kepada 18 orang dalam peringatan kenaikan takhta ke-4 di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/1).
Salah satu penerima gelar tersebut adalah politikus PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto atau yang akrab disapa Bambang Pacul. Ia dianugerahi gelar Kanjeng Pangeran (KP).
Bambang Pacul mengaku bersyukur dan bahagia atas gelar kehormatan yang diterimanya. Menurut dia, penganugerahan tersebut memiliki makna kultural yang mendalam.
Baca: Bersamai Kader PDI Perjuangan Kota Jogja Reresik Kali Code
“Jadi hari ini Bambang Pacul berbahagia karena sebagai Korea mlenting dalam kultural. Jadi plentingan kultural,” ujar Bambang Pacul usai menghadiri acara peringatan kenaikan takhta ke-4 Mangkunegara X.
Dalam sabdanya, KGPAA Mangkunegara X menekankan bahwa kebahagiaan tidak dapat diraih secara tergesa-gesa, melainkan melalui laku hidup dan kejernihan batin.
“Kita percaya kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dijalani sebagai suatu laku. Kebahagiaan tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin dan memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari,” tutur Mangkunegara X.
Ia juga menyampaikan bahwa kebahagiaan berawal dari kesadaran terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar. Kesadaran tersebut, menurutnya, akan menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam bertindak.
“Dengan kesadaran, manusia mampu hadir sepenuhnya pada saat ini, eling lan waspada. Sehingga setiap budi, rasa, dan laku berjalan selaras serta bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama,” ungkapnya.
Peringatan kenaikan takhta ke-4 Mangkunegara X dimulai sekitar pukul 09.45 WIB. Berdasarkan keterangan tertulis dari Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran, Tingalan Jumenengan merupakan bentuk rasa syukur atas perjalanan satu tahun terakhir sekaligus penanda dimulainya tahun kelima kepemimpinan Mangkunegara X.
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan bergada prajurit (royal defile), dilanjutkan tari Bedhaya Anglir Mendhung, serta klenengan gamelan.
Selama pementasan Bedhaya Anglir Mendhung, para tamu undangan dilarang mendokumentasikan pertunjukan tersebut. Larangan ini diberlakukan karena Bedhaya Anglir Mendhung merupakan tarian sakral Pura Mangkunegaran.
Tarian berdurasi sekitar 45 menit ini dibawakan oleh tujuh penari yang membawa gendewa panah. Bedhaya Anglir Mendhung mengisahkan perjuangan RM Said atau Mangkunegara I bersama dua sahabatnya, Kudono Warso dan Ronggo Panambang, melawan Belanda di wilayah Trowulan, Jawa Timur.

















































































