Ikuti Kami

Adi Wiryatama: Penguatan Nilai Kebangsaan Benteng Generasi Muda Mampu Kritis dan Selektif

Empat Pilar Kebangsaan ini bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Adi Wiryatama: Penguatan Nilai Kebangsaan Benteng Generasi Muda Mampu Kritis dan Selektif
Anggota Komisi IV DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Adi Wiryatama saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Banjar Adat Batu Gaing Kaja, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (6/2).

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Adi Wiryatama, menegaskan pentingnya penguatan Empat Pilar Kebangsaan di kalangan generasi muda saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Banjar Adat Batu Gaing Kaja, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, dikutip Minggu (8/2/2026).

“Empat Pilar Kebangsaan ini bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila, semangat persatuan, toleransi, dan kebersamaan harus tercermin dalam perilaku kita, baik di lingkungan keluarga, banjar, desa adat, maupun di ruang digital,” tegas Adi Wiryatama.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga setempat. Dalam forum itu, Adi menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar konsep normatif, melainkan pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi digital yang tak terbendung. Menurutnya, kemajuan teknologi menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi jati diri bangsa.

“Generasi Z hari ini sangat mudah terpapar berbagai paham dan ideologi bangsa asing. Tidak semua nilai dari luar itu buruk, tetapi jika tidak disaring dengan nilai kebangsaan yang kuat, maka identitas kita bisa terkikis perlahan,” ujarnya.

Mantan Bupati Tabanan dua periode itu menegaskan penguatan nilai kebangsaan harus menjadi benteng agar generasi muda mampu bersikap kritis dan selektif. Ia berharap pemuda tidak menjadi korban polarisasi akibat informasi yang menyesatkan.

“Ke depan, pemuda harus menjadi garda depan bangsa ini. Mereka harus menjadi penjaga persatuan dan kesatuan, bukan justru menjadi korban polarisasi dan perpecahan akibat informasi yang menyesatkan,” katanya.

Dalam konteks Bali, Adi Wiryatama menilai nilai-nilai lokal seperti menyama braya, gotong royong, serta sistem sosial berbasis desa adat sejalan dengan semangat Empat Pilar Kebangsaan. Ia menekankan pentingnya pendekatan kultural dalam memperkuat ideologi bangsa.

“Bali memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Desa adat dan banjar adalah benteng sosial dan ideologis yang sangat kuat. Nilai-nilai lokal ini pada dasarnya adalah pengejawantahan dari Pancasila itu sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, ancaman terhadap bangsa saat ini lebih banyak berbentuk ideologis dan sosial, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, hingga sikap individualistik di ruang digital. Karena itu, penguatan nilai kebangsaan harus dimulai dari lingkungan terkecil.

“Kalau dari rumah, dari banjar, dan dari desa adat nilai kebangsaan sudah kuat, maka negara ini akan kokoh. Negara tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat,” ujarnya.

Adi juga membagikan pengalamannya selama memimpin Kabupaten Tabanan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya soal fisik, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter.

“Selama saya memimpin Tabanan, saya belajar bahwa pembangunan karakter adalah fondasi utama. Jalan dan gedung bisa dibangun, tetapi tanpa karakter yang kuat, semua itu bisa runtuh,” katanya.

Ia pun menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan penguatan nilai kebangsaan melalui fungsi legislasi dan pengawasan sebagai anggota DPR RI.

“NKRI adalah harga mati. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah modal utama kita menghadapi tantangan global, termasuk tekanan ekonomi, geopolitik, dan perubahan iklim,” tegasnya.

Dalam sesi dialog, peserta menyampaikan keprihatinan atas lunturnya nilai kebangsaan akibat pengaruh media sosial. Menanggapi hal itu, Adi mendorong generasi muda untuk menguasai ruang digital dengan narasi positif.

“Jangan tinggalkan media sosial. Justru kuasai ruang itu. Isi dengan konten yang mencerdaskan, yang membangun, dan yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa yang harus dirawat bersama.

“Bhinneka Tunggal Ika itu bukan slogan kosong. Itu adalah realitas hidup kita sehari-hari. Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu,” katanya.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari tokoh adat dan masyarakat setempat yang berharap sosialisasi kebangsaan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami berharap pemuda terus diberi ruang dialog seperti ini agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman,” ujar salah satu tokoh adat.

Menutup kegiatan, Adi Wiryatama menegaskan bahwa menjaga Empat Pilar Kebangsaan adalah tanggung jawab bersama demi masa depan Indonesia yang berdaulat dan berkeadaban.

“Kalau kita ingin Indonesia tetap berdiri kokoh, maka Empat Pilar Kebangsaan harus terus kita jaga dan hidupkan bersama,” pungkasnya.

Quote