Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi II DPR RI yang juga Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun, menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan berkontribusi bagi masyarakat di tanah kelahirannya saat meresmikan Masjid Hidayatusolihin di Ohoi Mun Kahar, Kei Besar Utara Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Senin (23/3).
“Kehadiran kami di sini bukan sekadar meresmikan bangunan fisik, tetapi juga untuk memastikan bahwa tempat ini menjadi pusat kebersamaan, pembinaan umat, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat,” ujar Komarudin Watubun.
Suasana hangat, haru, dan penuh kekeluargaan begitu terasa dalam peresmian masjid tersebut. Momentum ini semakin bermakna karena berlangsung di tengah nuansa Idulfitri 1447 Hijriah yang masih kental dirasakan warga.
Kehadiran Komarudin bersama Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur George Watubun (BGW), disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Bagi warga Ohoi Mun Kahar, kehadiran kedua tokoh ini bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi simbol kuat kedekatan antara pemimpin dengan kampung halaman yang telah membesarkan mereka.
Ohoi Mun Kahar sendiri memiliki nilai historis dan emosional, karena menjadi tanah asal bagi kedua politisi tersebut.
Peresmian Masjid Hidayatusolihin berlangsung khidmat dan ditandai dengan penyerahan prasasti sebagai simbol resmi difungsikannya rumah ibadah tersebut. Di balik berdirinya masjid ini, terdapat kontribusi nyata dari Komarudin Watubun dan Benhur George Watubun yang turut membantu proses penyelesaian pembangunannya hingga rampung.
Masjid ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, ruang pembinaan umat, serta wadah mempererat kebersamaan masyarakat Kei. Kehadirannya dinilai penting dalam memperkuat nilai-nilai sosial dan spiritual di tengah kehidupan masyarakat.
Rasa syukur dan bangga tampak jelas dari wajah warga Mun Kahar yang hadir. Mereka menilai perhatian yang diberikan oleh kedua putra daerah tersebut merupakan bukti nyata bahwa ikatan dengan kampung halaman tetap terjaga, meskipun keduanya telah menempuh perjalanan panjang di panggung politik nasional.
“Ini bukan hanya bangunan, tetapi simbol cinta dan kepedulian,” ujar Nasrun Renel, salah satu warga.
Kini, Masjid Hidayatusolihin berdiri sebagai harapan baru bagi masyarakat. Selain menjadi pusat dakwah, masjid ini juga diharapkan mampu menjadi perekat umat Muslim di tanah Evav (Kei), sekaligus menjadi pengingat bahwa dari kampung kecil dapat lahir kepedulian besar untuk sesama.

















































































