Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Komisi IV, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menekankan pentingnya soliditas umat Islam di tengah dinamika geopolitik global saat menghadiri silaturahmi dan buka puasa bersama Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kota Bogor, Minggu (1/3).
Kegiatan yang digelar di kediamannya itu turut dihadiri Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, serta tokoh nasional, akademisi, dan jajaran pengurus KAHMI dan ICMI.
“Kalau ingin menjadi bangsa yang makmur, maka kita harus menjalankan perintah Allah SWT dan meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW. Nilai kejujuran, amanah, kerja keras, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi utama,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor itu, dikutip Selasa (3/3).
Dalam sambutannya, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu juga merefleksikan kondisi umat Islam Indonesia di tengah dinamika global. Ia menyoroti hasil survei Kementerian Agama yang menyebut umat Islam Indonesia masih cenderung sekuler dan menilai temuan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Menurut Prof. Rokhmin, umat Islam Indonesia masih menghadapi tantangan serius, mulai dari ketertinggalan ekonomi hingga praktik korupsi yang merusak berbagai sektor, padahal Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Ia juga mengajak umat Islam memperkuat semangat kewirausahaan agar mampu menjadi “tangan di atas” dan berkontribusi bagi sesama.
“Di tengah bulan Ramadan yang suci, kita melihat masih adanya konflik dan ketegangan global. Namun sejarah mencatat, justru di bulan penuh berkah inilah umat Islam sering menunjukkan kebangkitan dan persatuannya,” ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 itu mengingatkan agar perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak memecah belah umat. Soliditas dan ukhuwah, menurutnya, merupakan kekuatan utama dalam menghadapi tantangan nasional maupun internasional.
“Kita harus bersatu, saling menguatkan, dan tetap optimistis. Umat Islam Indonesia ke depan harus bisa lebih sejahtera dan berperan lebih besar dalam membangun peradaban,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin juga berbagi bahwa dirinya bersama sang istri telah konsisten menggelar buka puasa bersama sejak tahun 1995, dan tahun ini menjadi pelaksanaan yang ke-31 sebagai tradisi keluarga untuk mempererat silaturahmi.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, dalam ceramahnya menekankan makna Ramadan sebagai bulan pendidikan dan latihan spiritual dengan tiga fase pembinaan diri: sepuluh hari pertama sebagai momentum rahmat, sepuluh hari kedua sebagai maghfirah atau ampunan, dan sepuluh hari terakhir sebagai penguatan iman dari api neraka.
“Nilai-nilai Ramadan tidak boleh berhenti pada ritual semata. Ilmu dan jabatan akan sia-sia jika tidak memberi manfaat bagi umat dan bangsa,” tegasnya.
Ia juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad), sebagai landasan pentingnya kontribusi nyata seorang Muslim bagi masyarakat. Wamenag menambahkan, Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas dan moderasi Islam di tingkat global di tengah kondisi dunia Islam yang masih dilanda perpecahan.

















































































