Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita menyampaikan kegiatan ziarah makam pahlawan dan diskusi bersama para veteran di Banyuwangi tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Bulan Bung Karno 2026, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada para veteran yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan yang digelar Relawan Rumah DEGIRI (Demokrasi, Gagasan, dan Inspirasi) tersebut berlangsung di Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (21/6/2026).
“Pada peringatan Bulan Bung Karno ini, Saya bersama Kawan-kawan di rumah aspirasi ini memberikan apresiasi kepada para senior-senior veteran yang dahulu mereka ikut berjuang dalam kemerdekaan, dari sini kita berkesempatan mendengar langsung kisah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dari Bapak-bapak Veteran. Semangat patriotisme dan nasionalisme para pahlawan ini yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sonny.
Kegiatan yang mengusung tema “Merawat Memori Perjuangan, Menguatkan Karakter Kebangsaan” tersebut melibatkan para relawan Rumah DEGIRI serta mahasiswa dari Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA). Rumah DEGIRI sendiri merupakan Rumah Aspirasi Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H., Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara ziarah rombongan di area TMP Wisma Raga Satria, dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga di makam para pejuang, dan ditutup dengan sesi diskusi kebangsaan bersama para veteran.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut jajaran pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) DPC Banyuwangi, yakni Ketua LVRI DPC Banyuwangi Hermiyanto, Dewan Pertimbangan Wan Sutanto, Bendahara Sutrisno, serta Staf Ahli Veteran yang juga dosen UNIBA, Miskawi.
Dalam kesempatan itu, Hermiyanto memberikan pesan kepada generasi muda agar terus berkarya dan tidak melupakan jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
“Pemuda-pemudi Indonesia jangan pernah lelah untuk berkarya dan berinovasi. Buktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa para pahlawannya,” tegas Hermiyanto.
Senada dengan itu, Wan Sutanto mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadi generasi yang pasif. Menurutnya, semangat kritis sangat dibutuhkan untuk melanjutkan perjuangan bangsa di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
“Para pemuda yang ada di negeri ini jangan hanya membaca buku, tapi kita semua harus kritis untuk meneruskan perjuangan bangsa,” ujarnya.
Diskusi tersebut juga menjadi momentum untuk menyegarkan kembali ingatan kolektif mengenai perjuangan Bung Karno sebagai Sang Proklamator. Para peserta diajak memahami bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui perjuangan intelektual dan persatuan seluruh elemen bangsa.
Fakta menarik yang mengemuka dalam diskusi adalah banyaknya nama pahlawan di TMP Banyuwangi yang berasal dari kalangan masyarakat sipil, mulai dari guru, buruh, petani hingga pejuang tanpa kepangkatan. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil gotong royong seluruh rakyat.
Sementara itu, Miskawi menekankan pentingnya membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para penyelenggara negara.
“Pancasila harus dijadikan sebagai living ideology (ideologi yang hidup). Pancasila itu untuk diyakini, dipelajari, dan dipraktekkan. Pancasila merupakan moral negara, sehingga para pejabat di Republik Indonesia harus memiliki moral Pancasila,” ucap Miskawi.
“Pentingnya implementasi ajaran Trisakti Bung Karno (Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan),” lanjutnya.
Di sisi lain, Bendahara LVRI Banyuwangi, Sutrisno, menyampaikan apresiasi dan rasa harunya kepada Sonny T. Danaparamita serta para relawan Rumah DEGIRI yang selama ini dinilai konsisten menjaga hubungan dan memberikan perhatian kepada para veteran.
“Kami bangga dan terharu atas sikap Pak Sonny yang sampai saat ini selalu nguri-uri (merawat) jasa para pahlawan,” tutur Sutrisno penuh emosional. “Walaupun raga dimakan usia, semangat tetap membara. Merdeka!” tegasnya.
Melalui kegiatan ziarah dan diskusi kebangsaan tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami nilai-nilai perjuangan para pahlawan serta mampu mengimplementasikan semangat nasionalisme, patriotisme, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

















































































