Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember Bidang Perekonomian, Pendidikan dan Kebudayaan, Indi Naidha Wulandari, S.H., M.H., menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk memperkuat persatuan, keberanian menyampaikan pendapat, dan kedewasaan dalam berdemokrasi.
Menurut Indi, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan pengingat bahwa Indonesia dibangun oleh anak-anak muda yang berani melampaui perbedaan demi mencapai cita-cita bersama.
“Menurut saya, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang kita peringati setiap tahun, melainkan pengingat bahwa Indonesia dibangun oleh anak-anak muda yang berani melampaui perbedaan demi cita cita bersama. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan organisasi memilih untuk menyatukan tekad: bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia,” kata Indi, Senin (19/10/2026).

Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Jember dari Fraksi PDI Perjuangan itu juga menyoroti berbagai peran tokoh dalam Kongres Pemuda II yang menunjukkan bahwa perjuangan membangun bangsa membutuhkan keberanian, kerja sama, dan kontribusi dari berbagai pihak.
“Saya melihat ada pesan mendalam dari peristiwa tersebut. Ketika W.R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya melalui gesekan biolanya dalam Kongres Pemuda II, yang hadir bukan hanya sebuah karya musik, tetapi juga keberanian menyuarakan identitas dan cita-cita sebuah bangsa. Di balik momentum itu, ada pula tokoh-tokoh yang bekerja untuk memastikan kongres berlangsung, termasuk Amir Sjarifuddin sebagai bendahara dan Sie Kok Liong yang menyediakan tempat pertemuan. Ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus berada di panggung utama. Ada yang menyuarakan gagasan, ada yang merawat proses, dan ada yang memastikan perjuangan tetap berjalan,” ungkapnya.
Menurut Indi, semangat perjuangan tersebut perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan generasi muda saat ini. Ia menilai, nasionalisme tidak cukup diwujudkan melalui penghormatan terhadap tokoh-tokoh sejarah atau pengucapan ikrar persatuan, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata.
“Bagi saya, semangat itulah yang harus dihidupkan kembali oleh generasi muda hari ini. Nasionalisme tidak cukup hanya dengan mengagumi tokoh masa lalu atau mengucapkan ikrar persatuan. Nasionalisme harus terlihat dalam keberanian menyampaikan pendapat, kepedulian terhadap persoalan rakyat, serta kesediaan bekerja bersama meskipun memiliki pandangan yang berbeda,” tuturnya.
Indi berharap, momentum Sumpah Pemuda dapat menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Ia menekankan bahwa keberanian menyampaikan aspirasi harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap masyarakat dan kesediaan membangun kerja sama.
Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun demokrasi yang sehat, dewasa, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































