Jakarta, Gesuri.id - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menegaskan hingga kini Bung Karno diakui sebagai tokoh yang dikagumi dunia internasional. Dia sendiri sangat mengagumi Bung Karno dengan membaca hampir semua karya proklamator Republik Indonesia itu, terutama buku berjudul 'Di Bawah Bendera Revolusi'.
"Bung Karno tak terbantahkan, selain sebagai proklamator, beliau juga tokoh umat Islam Indonesia, bahkan tokoh yang dikagumi dunia internasional. Saya pernah ke Kairo, Mesir, di sana ternyata ada jalan Ahmad Sukarno," ujar Din Syamsuddin dalam acara Haul ke-56 Bung Karno di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (21/6/2026).
Untuk itu, mantan Ketua Umum MUI Pusat itu mengajak Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) mengikuti jejak Bung Karno memprakarsai dialog semua organisasi massa Islam membahas kondisi Indonesia terkini. Dia meminta sayap Islam PDI Perjuangan itu menjadi motor penggerak dialog, mulai dari mengundang peserta sampai memberi fasilitas dialog.
"Bung Karno dikenal sebagai solidarity maker, pemersatu Indonesia yang multikultural, lintas agama, lintas suku, lintas golongan. Bamusi sebagai organisasi sayap Islam PDI Perjuangan mestinya menangkap dan melanjutkan ajaran Bung Karno ini dalam bentuk api, bukan debu," tegas Din Syamsuddin.
Guru Besar Ilmu Politik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai, masukan dari ormas-ormas Islam untuk pemerintahan sangat penting agar roda pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto berjalan secara terukur. Dia mencontohkan tidak tepat jika Indonesia saat ini terlibat dalam Board of Peace (BoP) bentukan AS sebab Palestina tidak membutuhkan organisasi perdamaian buatan Presiden Donald Trump itu.
"Kalau saja Bung Karno masih hidup, beliau tentu tidak setuju Indonesia masuk BoP itu. Darah Bung Karno adalah kemerdekaan tanpa syarat buat Palestina sebab kemerdekaan adalah hak segala bangsa," tandas doktor ilmu politik lulusan University of California, Los Angeles, (UCLA), AS itu.
Menurut Din Syamsuddin, Bung Karno tidak hanya dicatat sejarah sebagai solidarity maker, tapi ada tiga label lain yang melekat dalam dirinya. Pertama, Bung Karno dikenal gigih mengintegrasikan wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan, khususnya keislaman. Kedua Bung Karno dikebal pandai bergaul dengan tokoh-tokoh nasional lintas mazhab. Ketiga Bung Karno terkenal dengan konsep Tri Sakti yang selalu digadang-gadangnya.
"Apakah saat ini Indonesia benar-benar berjalan di bawah payung Tri Sakti? Inilah yang harus kita dialogkan. Benarkah kita benar-benar berdaulat dalam politik seperti ajaran Tri Sakti? Apakah kita benar-benar berdikari dalam ekonomi? Tak kalah penting, apakah kita cukup berkepribadian dalam budaya?" tegas Din Syamsuddin.
Ketua Dewan Penasihat PP Bamusi Ahmad Basarah menyambut baik ajakan Din Syamsuddin agar PP Bamusi memprakarsai dialog ormas-ormas Islam. Ketua DPP PDI Perjuangan ini menilai, hanya lewat dialog terbuka dan jujur, gagasan besar dan positif tentang kondisi Indonesia saat ini bisa dicarikan jalan keluar.
Optimisme yang sama disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PP Bamusi, Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah. Anggota DPR RI dari Dapil Gresik dan Lamongan ini bahkan menyatakan sebaiknya ajakan positif Din Syamsuddin itu dilaksanakan secepatnya, jika perlu Juli mendatang.

















































































