Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyampaikan duka cita mendalam atas kecelakaan kereta api yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur serta menegaskan pentingnya peningkatan keselamatan jalur kereta.
“Atas nama pribadi maupun atas nama DPR RI, saya sampaikan dukacita mendalam untuk para korban dalam kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di wilayah Bekasi,” kata Puan Maharani, Selasa (28/4/2026).
Insiden tersebut bermula ketika sebuah taksi listrik terhenti di perlintasan sebidang di kawasan Bulak Kapal dan kemudian ditabrak KRL yang melaju menuju Jakarta. Akibatnya, rangkaian KRL berhenti di jalur, sebelum akhirnya ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang datang tidak lama kemudian.
Benturan keras menyebabkan lokomotif KA Argo Bromo Anggrek merangsek hingga ke gerbong khusus wanita di bagian belakang KRL. Peristiwa tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
“Kita minta Pemerintah, KAI, bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki,” tegas Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini.
Puan juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang yang dinilai memiliki tingkat keamanan rendah dan kerap menjadi titik rawan kecelakaan.
“Terutama pada perlintasan sebidang yang masih banyak kita temukan di sepanjang perlintasan kereta. Karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan kereta seringkali terjadi dan ini harus disikapi dengan serius,” imbuh Puan.
Ia menilai kecelakaan ini tidak hanya menimbulkan duka, tetapi juga berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik, khususnya kereta api yang menjadi tulang punggung mobilitas di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek.
“Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KAI Commuter Line atau KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari,” jelasnya.
“Karena itu, setiap insiden besar tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman menggunakan transportasi kereta,” tambah Puan.
Menurutnya, meningkatnya kompleksitas jalur kereta di kawasan metropolitan menuntut sistem keselamatan yang lebih ketat dan terstandarisasi.
“Dalam kondisi seperti ini, keselamatan tidak cukup dilihat hanya sebagai kepatuhan prosedur operasional harian, tetapi harus hadir dalam bentuk standarisasi pengamanan yang mampu meyakinkan masyarakat bahwa setiap potensi risiko sudah diantisipasi,” paparnya.
Puan juga menekankan pentingnya pembelajaran dari insiden tersebut agar ke depan transportasi kereta tetap menjadi moda yang paling dipercaya dari sisi keselamatan.
“Bahwa KRL tetap harus menjadi moda transportasi yang paling dapat dipercaya dari sisi keselamatan,” tutur Mantan Menko PMK ini.
Ia menambahkan bahwa pemerintah dan operator harus segera menunjukkan langkah konkret dalam memperbarui standar keselamatan agar masyarakat tetap merasa aman menggunakan layanan kereta api.
“Justru setelah insiden seperti ini, operator dan Pemerintah perlu menunjukkan bahwa standar keselamatan diperbarui secara nyata, terukur, dan dapat dipahami masyarakat,” ucapnya.
Puan juga mendorong agar investigasi atas kecelakaan tersebut menghasilkan pembelajaran struktural yang jelas dan komprehensif.
“Dan hasil terpenting dari evaluasi ini adalah memastikan masyarakat melihat bahwa menggunakan KRL tetap merupakan pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat,” pungkasnya.

















































































