Jakarta, Gesuri.id - Pada tanggal 10 Agustus 1945 pagi, Bung Karno bersama rombongan melanjutkan penerbangan melintasi Semenanjung Malaya yaitu dari Singapura menuju Saigon (sekarang Ho Chi Minh City, Vietnam).
"Udara di Saigon sangat panas dan membakar, namun rasa panas itu tidak seberapa dibandingkan dengan gelora yang ada di dalam dada kami. Aku sadar, saat melangkah di tanah Indocina itu, aku membawa nasib dan masa depan 70 juta rakyat Indonesia di atas pundakku."
- Ir. Soekarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Penerbangan dilakukan menggunakan pesawat angkut militer Jepang yang terbang melintasi kawasan udara rawan ketegangan militer Perang Dunia II.
Bung Karno memegang kendali penuh atas sikap delegasi Indonesia, menjaga mentalitas agar tidak terintimidasi oleh suasana pangkalan militer Jepang yang sedang berada dalam kesiapsiagaan perang tinggi.
Rombongan Bung Karno mendarat di Bandara Saigon pada 10 Agustus 1945 siang.
Kedatangan Bung Karno disambut oleh pimpinan Markas Besar Tentara Pendudukan Jepang untuk Wilayah Selatan (Nampo Gun), dimana Kota Saigon saat itu dipenuhi barikade militer dan pengawalan ketat.
Bung Karno dan rombongan diistirahatkan di sebuah hotel di Saigon sebelum melanjutkan perjalanan darat/udara menuju Dalat (kota pegunungan berjarak sekitar 300 km dari Saigon, tempat kediaman dan Markas Besar Marsekal Hisaichi Terauchi).
Konsolidasikan Pemikiran Bersama Bung Hatta
Meskipun terisolasi dari perkembangan berita tanah air, Bung Karno memanfaatkan tanggal 10 Agustus untuk mengonsolidasikan pemikiran bersama Mohammad Hatta.
Bung Karno menegaskan fokus utama mereka di Vietnam bukanlah tunduk pada instruksi Jepang, melainkan memanfaatkan posisi diplomasi PPKI untuk mendapatkan pengakuan penuh atas kedaulatan Indonesia.
Ketika berbincang dengan Mohammad Hatta saat transit di Saigon pada 10 Agustus mengenai sikap yang harus diambil di depan Marsekal Terauchi:
"Kita tidak datang ke sini sebagai peminta-minta. Kita datang untuk mengambil apa yang memang menjadi hak bangsa kita: kemerdekaan yang utuh dan tak terbagi."
- Ir. Soekarno (Refleksi Bung Karno menjelang pertemuan di Dalat).
Menginap Satu Malam di Singapura dan Saigon
Menurut Restu Gunawan, dkk dalam buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (2015), Ir. Soekano, Moh. Hatta dan Radjiman Wediodiningrat berangkat ke Dalat pada 9 Agustus 1945.
Ini Dalam perjalanannya, Ir. Soekarno beserta rombongannya menginap satu malam di Singapura dan di Saigon. Pada pagi buta, rombongan tersebut berangkat dari Saigon menuju Dalat. Pertemuan rombongan dengan Jenderal Terauchi dijadwalkan pukul 10.00 waktu setempat.
Jenderal Terauchi mengatakan jika Pemerintah Jepang di Tokyo memutuskan untuk memberi kemerdekaan pada seluruh daerah di Hindia Belanda. Namun, wilayah tersebut tidak termasuk Malaya serta bekas jajahan Inggris di Kalimantan.
Dilansir dari situs Universitas Negeri Yogyakarta, pada pertemuan tersebut pula, Jenderal Terauchi mengatakan jika awalnya kemerdekaan Indonesia akan diberikan pada 24 Agustus 1945.
Namun, ternyata pemberian kemerdekaan ini dipercepat setelah peristiwa penjatuhan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Selain membahas perihal kemerdekaan, ada beberapa hasil lainnya dari pertemuan antara Ir. Soekarno dengan Jenderal Terauchi.
Apa Saja Hasilnya?
Pembentukan PPKI sebagai BPUPK Setelah menyelesaikan tugasnya, yakni menetapkan dasar negara dan menyusun rancangan Undang-Undang Dasar, BPUPKI dibubarkan dan diganti dengan PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tentunya tugas PPKI lebih tertuju atau berfokus pada persiapan kemerdekaan Indonesia.
Pemerintah Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia Jenderal Terauchi mengatakan jika Indonesia akan diberikan kemerdekaan pada 24 Agustus 1945, tetapi dipercepat setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh sekutu.
Wilayah kemerdekaan Indonesia Jepang akan memberi kemerdekaan pada seluruh wilayah bekas Hindia Belanda. Namun, tidak termasuk Malaya serta bekas jajahan Inggris di Kalimantan. Pemberian kemerdekaan dilakukan secara berangsur-angsur Jepang memberikan kemerdekaan berangsur-angsur, dimulai dari Pulau Jawa dan disusul pulau-pulau lainnya.
Pemberian kemerdekaan ini akan dilakukan secara langsung setelah semua persiapan selesai. Setelah pertemuan antara Jenderal Terauchi dengan Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Radjiman Wediodiningrat selesai dilakukan, pada 14 Agustus 1945, ketiga tokoh ini kembali ke tanah air dari Dalat, Vietnam.
(Berbagai sumber)

















































































