Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menegaskan tradisi Lebaran dalam budaya Jawa, khususnya yang berkembang di lingkungan keraton, sarat dengan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama.
“Tradisi keraton juga memperlihatkan bagaimana nilai lebaran dipelihara dalam kehidupan masyarakat. Kita mengenal pingsuanan agung dan gerbek syawal. Ketika gunungan hasil bumi dikeluarkan dari keraton untuk dibagikan kepada rakyat, pesannya jelas, Hari Raya tidak hanya berbicara tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga tentang berbagai keceki dan memperkuat ikatan sosial,” kata Aria, dikutip Minggu (29/3/2026).
Menurut Aria Bima, tradisi tersebut menjadi cerminan bahwa perayaan Lebaran tidak hanya dimaknai secara individual, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang mempererat hubungan antara pemimpin dan rakyat, serta antaranggota masyarakat.
“Di Solo dahulu, kita juga mengenal suasana malaman seribu tari. Ada lampu-lampion, ada arak-arakan, ada tumpeng sewu, ada doa bersama. Semua itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa mengekspresikan spiritualitas bukan hanya dalam kehendingan, tetapi juga dalam kebersamaan yang hidupnya,” ucapnya.
Ia menilai, ekspresi budaya dalam perayaan keagamaan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa mampu memadukan nilai spiritual dan sosial dalam satu kesatuan yang harmonis.
“Dari sebuah tradisi itu, kita belajar satu hal penting. Agama tidak dipisahkan dari kebudayaan. Ibadah tidak dipisahkan dari kepedulian sosial,” ujarnya.
Aria Bima menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut relevan dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya.
“Dan kemenangan tidak dipisahkan dari semangat berbagi. Nilai-nilai Lebaran ini sejalan dengan watak kebangsaan kita. Gotong royong, rasa kemanusiaan, parasaudaraan, dan penghormatan terhadap kebudayaan bangsa adalah fondasi yang menjaga Indonesia tetap kokoh,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaknai Lebaran sebagai momentum refleksi untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang menjadi jati diri bangsa.
“Lebaran adalah jalan pulang manusia, pulang kepada hati yang dilapangkan, kepada sesama yang dirangkul kembali, dan kepada kemanusiaan yang menjaga kita tetap menjadi bangsa yang beragama,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan menjaga dan merawat tradisi yang sarat makna tersebut, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat identitas kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai luhur.

















































































