Ikuti Kami

Mengkritik Tanpa 'Baper': Ketika Stand Up Comedy Jadi Corong Aspirasi Bulan Bung Karno di Kota Depok

Komedi adalah media komunikasi yang sangat efektif karena sifatnya yang cair dan mudah diterima semua kalangan.

Mengkritik Tanpa 'Baper': Ketika Stand Up Comedy Jadi Corong Aspirasi Bulan Bung Karno di Kota Depok
​Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Hj. Yuni Indriany.

​Depok, Gesuri.id – Kritik tidak selamanya harus disampaikan lewat ketukan palu sidang atau mimbar formal yang kaku. Di tangan para komika, keresahan sosial dan sindiran politik justru bisa dikemas menjadi hiburan segar yang mengundang tawa, tanpa kehilangan ketajamannya.

​Semangat anti-baper itulah yang melandasi gelaran Stand Up Garis Merah, sebuah kompetisi stand up comedy yang diinisiasi oleh DPC PDI Perjuangan Kota Depok. Acara yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno ini sukses menyedot perhatian publik di kawasan Jabodetabek.

​Meski sempat diguyur hujan, antusiasme ratusan penonton dan peserta yang memadati lokasi acara tetap menyala hingga akhir. Suasana kian semarak dengan kehadiran 

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Komisi X, Denny Cagur, yang mempertegas bahwa ruang kreativitas dan aspirasi publik bisa berjalan beriringan dalam iklim demokrasi sehat.

​Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Hj. Yuni Indriany, S.E., M.Si., mengungkapkan bahwa acara ini sengaja digelar sebagai ruang ekspresi alternatif bagi warga. Menurutnya, komedi adalah media komunikasi yang sangat efektif karena sifatnya yang cair dan mudah diterima semua kalangan.

​"Kami ingin memberikan wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan unek-unek, aspirasi, maupun kritik melalui komedi. Kritik yang disampaikan dengan cara seperti ini justru bisa menjadi masukan yang baik untuk membangun Kota Depok ke arah yang lebih baik," ujar Yuni usai acara, Minggu (21/6).

​Yuni juga mengingatkan para pemangku kebijakan agar lebih berlapang dada dalam menerima suara-suara dari akar rumput.

​"Pemerintah tidak boleh baper (bawa perasaan) terhadap kritik. Justru kritik yang disampaikan secara santun dan kreatif dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dan kebijakan yang ada," tegasnya.

​Selain sebagai jembatan komunikasi, kompetisi ini juga dirancang untuk memfasilitasi anak muda yang memiliki keberanian bersuara. Apalagi, momen Juni ini sangat lekat dengan sejarah bangsa.

​"Jangan pernah melupakan sejarah (Jasmerah). Bulan Juni merupakan Bulan Bung Karno—bulan lahir dan wafatnya beliau, sekaligus bulan lahirnya Pancasila. Nilai-nilai perjuangan dan kebangsaan ini harus terus diwariskan kepada generasi muda lewat cara yang relevan dengan zaman mereka," tambah Yuni.

​Ketua Panitia sekaligus Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Anggayuda Prabu Mesta, menjelaskan bahwa suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi apik bersama komunitas Stand Up Indo.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​Tercatat ada sekitar 30 komika yang berhasil naik ke atas panggung untuk unjuk gigi. Angka tersebut bahkan belum termasuk puluhan calon peserta lain yang terpaksa masuk ke dalam daftar tunggu (waiting list) karena keterbatasan durasi.

​"Animonya luar biasa. Ini menunjukkan bahwa banyak anak muda membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan pandangannya terhadap berbagai persoalan di masyarakat," jelas Angga.
​Ia pun menarik garis merah yang menarik antara gaya komunikasi politik zaman dahulu dengan era gen-Z saat ini.

​"Kalau dulu Bung Karno menyampaikan aspirasi melalui pidato dan orasi yang membakar semangat, hari ini banyak anak muda menyampaikannya melalui komedi. Medianya berbeda, tetapi semangatnya sama, yaitu menyuarakan kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa," pungkas Angga.

​Melalui Stand Up Garis Merah, politik tidak lagi wajahnya yang tegang, melainkan sebuah ruang dialog terbuka yang cerdas, santun, dan tentu saja: memancing tawa.

Quote