Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi lll DPR RI, I Nyoman Parta, mengenang sosok almarhum I Wayan Suyadnya sebagai jurnalis yang menjaga nalar dan kejujuran intelektual di tengah dinamika sosial Bali.
“Kabar itu datang tiba-tiba, dan terasa sulit dipercaya. I Wayan Suyadnya, Pemimpin Redaksi Media Bali sekaligus Komisioner KPID Provinsi Bali, telah berpulang pada 20 Maret 2026 di RS Bali Mandara, setelah berjuang melawan penyakit jantung yang dideritanya,” kata I Nyoman Parta, dikutip Sabtu (21/3/2026).
Nyoman Parta menuturkan, dirinya pertama kali mengetahui kondisi kesehatan almarhum dari sahabat dekatnya, Agung Bawantara. Ia pun berupaya membantu semaksimal mungkin dengan berkoordinasi agar almarhum mendapatkan penanganan terbaik.
Ia mengungkapkan telah mengenal Suyadnya sejak lebih dari tiga dekade lalu, ketika keduanya masih aktif di dunia masing-masing, sebagai aktivis mahasiswa dan jurnalis.
“Kami sering bertemu, berdiskusi, berdebat, dan bertukar pikiran dengan intens. Ia bukan tipe orang yang sekadar mendengar untuk menjawab, melainkan mendengar untuk memahami. Perdebatan kami kerap tajam, tetapi selalu sehat,” ucapnya.
Hubungan keduanya terus terjalin saat kembali ke Bali, meskipun menempuh jalan berbeda—Suyadnya sebagai jurnalis dan Parta sebagai politisi. Namun, keduanya dipersatukan oleh kecintaan terhadap Bali.
Parta menilai Suyadnya sebagai jurnalis yang profesional dan menjunjung tinggi integritas, bahkan ketika harus menuliskan pandangan yang berbeda.
“Ia berani menyampaikan pikirannya. Ia tidak takut berbeda. Namun yang membuatnya istimewa adalah caranya berbeda, tanpa merendahkan, tanpa meniadakan pandangan lain. Ia menjaga ruang dialog tetap hidup,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi tulisan-tulisan almarhum yang reflektif dan kritis, terutama terkait fenomena sosial dan budaya di Bali, yang dinilai mampu menggugah kesadaran tanpa bersifat menggurui.
“Salah satu tulisan yang paling membekas bagi saya adalah refleksinya tentang banjir yang terjadi bertepatan dengan Hari Pagerwesi, yang ia tuangkan dalam bukunya Banjir Pagerwesi,” jelasnya.
Menurutnya, Suyadnya mampu mengajak pembaca untuk merenung dan melihat lebih dalam arah kehidupan serta hubungan manusia dengan alam.
“Ketika banjir datang tepat di hari Pagerwesi, ia membacanya bukan sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai teguran. Bahwa manusia Bali, yang hidup dalam kesadaran kosmis, tidak pernah benar-benar terpisah dari alam,” ungkapnya.
Di akhir kenangannya, Parta mengaku kehilangan sosok sahabat diskusi dan berpikir yang memiliki kepedulian besar terhadap masa depan Bali.
“Selamat jalan, Bli Suyadnya. Terima kasih atas kejujuran, keberanian, dan kejernihan yang telah engkau rawat sepanjang hidupmu. Bali kehilangan satu suara penting hari ini. Dan saya, kehilangan seorang sahabat berpikir dan berdebat,” pungkasnya.

















































































