Ikuti Kami

Indonesia Re, 'Binatang' Macam Apa Itu? 

Oleh: Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino.

Indonesia Re, 'Binatang' Macam Apa Itu? 
Anggota Komisi VI DPR RI, Harris Turino.

Jakarta, Gesuri.id - Sehubungan dengan pernyataan saya dalam Raker dengan Menteri BUMN, Erick Thohir, Senin(13/2), terutama tentang Indonesia Re, banyak rekan yang menanyakan Indonesia Re itu apaan sih? Dan bagaimana hubungan penguatan modal Indonesia Re dengan Neraca Perdagangan Indonesia. 

Mumpung lagi duduk di awang-awang dalam penerbangan balik ke Jakarta, saya mencoba menjawabnya. Indonesia Re adalah perusahaan reasuransi BUMN yang dimiliki oleh pemerintah. 

Perusahaan Reasuransi (atau reinsurance dalam bahasa Inggris) adalah perusahaan yang memberikan jasa asuransi bagi perusahaan asuransi lain. Artinya, perusahaan reasuransi menanggung risiko yang ditanggung oleh perusahaan asuransi lain, sehingga perusahaan asuransi tersebut dapat memperluas kapasitas bisnisnya tanpa menanggung seluruh risiko secara mandiri. 

Perusahaan reasuransi juga dapat membantu perusahaan asuransi mengelola risiko dengan cara mendiversifikasi risiko atau mengurangi risiko melalui pemisahan risiko. Jadi kalau dulunya Sambo adalah polisinya polisi, maka perusahaan reasuransi adalah asuransinya perusahaan asuransi. 

Nah karena modalnya terbatas maka jumlah resiko yang bisa ditanggung oleh Indonesia Re juga terbatas. Kesehatan sebuah perusahaan asuransi, salah satunya dilihat dari RBT (Risk Based Capital). Ini adalah sebuah metode untuk mengukur kecukupan modal yang diperlukan oleh sebuah perusahaan asuransi untuk menanggung risiko yang dimilikinya. 

Baca: Memaknai Arti Bhinneka Tunggal Ika

RBT bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan asuransi memiliki modal yang cukup untuk menanggung risiko yang dimilikinya sehingga dapat memenuhi kewajiban finansialnya terhadap nasabahnya. Rumusan besaran RBT harus di atas 120% baru dapat dikatakan sehat. Semakin besar resiko yang ditanggung semakin besar modal yang dibutuhkan. 

Lalu apa urusannya dengan Neraca Perdagangan Indonesia? Neraca Perdagangan Indonesia terdiri dari 2 komponen utama, yaitu Neraca Perdagangan Barang dan Neraca Jasa. Di Neraca Barang, kita selalu positif, artinya kita lebih banyak ekspor dibandingkan impor, dan akibatnya kita lebih banyak menerima valuta asing dibandingkan membayar valuta asing. Sudah 29 bulan berturut-turut kita surplus di Neraca Barang. 

Sebaliknya Neraca Jasa kita selalu defisit. Kok bisa? Apa saja komponen Neraca Jasa. Pertama adalah jasa atas modal. Lebih banyak modal yang masuk ke Indonesia, dibandingkan dengan modal yang keluar. 

Sehingga tentu kita harus membayar jasa atas modal tersebut berupa Deviden. Kedua adalah jasa atas pinjaman. Kita lebih banyak meminjam ke luar negeri dibandingkan memberikan pinjaman ke luar negeri. Akibatnya kita lebih banyak membayar jasa atas pinjaman ke luar negeri berupa bunga. 

Komponen ketiga adalah jasa pengangkutan. Dengan semakin banyaknya ekspor barang, semakin banyak kita membayar biaya angkut. Celakanya baik kapal, kontainer, maupun freight lain lebih banyak milik asing. Sedikit kapal berbendera Indonesia. 

Baca: Sudin Tanam 500 Batang Lada Perdu & Tabur Benih Ikan

Keempat adalah premi reasuransi. Lebih banyak kita membayar premi reasuransi ke perusahaan reasuransi di luar negeri dibandingkan dengan klaim yang kita terima atau dibandingkan dengan premi reasuransi yang kita terima dari perusahaan asuransi di luar negeri. Kenapa? Karena perusahaan reasuransi kita modalnya cekak. Kalau kuat maka perusahaan reasuransi kita akan bisa mencari pasar juga di luar negeri, atau minimal perusahaan asuransi Indonesia tidak perlu memakai jasa reasuransi di luar negeri. 

Nah dari keempat komponen Neraca Jasa itulah, hanya yang keempat yang bisa kita perbaiki neracanya. Soal jasa atas modal, jasa atas pinjaman, freight dan pengapalan, butuh waktu puluhan tahun untuk memperbaiki. 

Komponen keempat masih bisa kita kelola dengan menyuntikkan modal ke Indonesia Re. Tentu ini harus juga diimbangi dengan peningkatan kapabilitas pengelolaan resiko berskala lebih besar bahkan global di tubuh Indonesia Re. 

Kalau dijalankan dengan prudent, apalagi didukung oleh sinergi antar BUMN asuransi (di bawah holding BPUI), banyak sekali devisa yang bisa dihemat. Setiap devisa yang dihemat, kemandirian ekonomi semakin kuat. Pada gilirannya kesejahteraan rakyat lebih mudah diraih. Bukankah itu salah satu cita-cita Bung Karno, yang tercantum dalam Trisakti? 

Mari kita kawal, demi Indonesia yang lebih baik.

Quote