Ikuti Kami

Merahnya PDI Perjuangan di Gelora Bung Karno Meneguhkan Kedaulatan

Oleh: Yogen Sogen, Koordinator Pusat Jaringan Milenial Nusantara, Staf Badan Penelitian Pusat PDI Perjuangan.

Merahnya PDI Perjuangan di Gelora Bung Karno Meneguhkan Kedaulatan
Yogen Sogen, Koordinator Pusat Jaringan Milenial Nusantara, Staf Badan Penelitian Pusat PDI Perjuangan. (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - PDI Perjuangan, partai yang konsisten menyulam tenunan kebangsaan dan Ideologi Pancasila kembali menunjukkan betapa merahnya semangat jutaan kader di berbagai wilayah di tanah air. 

Gelora Bung Karno menjadi saksi sejarah yang menyimpan deru napas dari seruan kata "merdeka" dan salam "Pancasila" di bawah langit Jakarta yang pengap. 

Sabtu 24 Juni 2023, tiga hari setelah peringatan kepergian Bapak Bangsa Bung Karno pada 21 Juni 1970 silam dan peringatan kelahiran Presiden Jokowi yang ke-62, PDI Perjuangan di bawah Komando Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menggenggam semangat persatuan dan kedisiplinan tinggi yang akan diwartakannya pada hati dan jiwa jutaan kader PDI Perjuangan. 

Stadion Gelora Bung Karno diprediksi menjadi merah total pada Sabtu mendatang. Wajah-wajah ribuan kader Banteng beberapa hari sebelum agenda akbar ini berlangsung tampak mulai memenuhi jantung ibukota Jakarta. Ini belum hari H. Jakarta akan bertambah padat karena Gelora Bung Karno akan terisi penuh lebih dari 100.000 kader PDI Perjuangan yang hadir melebihi kapasitasnya yang hanya menampung 78 ribu orang. 

Perlu diakui, Perayaan Puncak Bulan Bung Karno yang menjadi tradisi PDI Perjuangan kali ini tampak lebih membara, merahnya menyeruak. Udara dan laut diserbu kader Banteng. Inilah roh yang melahirkan kebesaran PDI Perjuangan dari amuk badai masa lalu. 

Merahnya PDI Perjuangan kali ini menghantarkan ingatan saya kembali semasa di Sekolah Dasar Katolik Lewotala, Flores Timur sekitar tahun 2.000. Di dinding-dinding sekolah dan sampul buku, saya dan teman-teman menggambar Kepala Banteng. Waktu itu saya belum mengerti makna dibalik kepala banteng. 

Ada fenomena yang berbeda pada waktu itu, sosok kepala banteng dalam ingatan saya tiba-tiba menjadi akrab bagi kami, di masyarakat stiker dan poster bertebaran. Masyarakat mendiskusikan sosok perempuan yang disebut Megawati. 

Setelahnya, saya diajak Bapak sekitar tahun 2004 ikut kampanye yang dalam ingatan saya tempat tersebut kini menjadi Stadion Utama Flores Timur. Ketika itu saya melihat dengan jelas, patung kepala banteng yang sering saya gambar melewati barisan tepat di depan saya dan bapak berdiri, patung kepala banteng yang diarak ditutupi kain merah dengan poster sosok perempuan mengepalkan tangan. Teriakan kata merdeka dan nama megawati bersambut. 

"Hidup Megawati, hidup petani, merdeka-merdeka," teriakan semangat itu kian menggelora tanpa henti. Wajah-wajah yang hadir penuh semangat. Bisa diterjemahkan pada waktu itu, ada luapan emosi dan marah yang dibendung tapi merumuskan cita-cita serta semangat yang ingin diperjuangkan. 

Hari-hari itu menjadi ingatan sejarah bagi saya. Percikan kenangan itu merampungkan makna, bahwa PDI Perjuangan tumbuh apa adanya, berjalan dengan keteguhan. Meskipun ia didikte oleh rezim, dikhianati, dibenci, banyak tangan-tangan keserakahan ingin mencabiknya tetapi dengan keteguhan ia tetap kokoh. 

Bagaimanapun juga, PDI Perjuangan lahir dari gerakan organik. Ia selalu bersemayam dalam dimensi yang natural. Konsekuensinya, ia terus ada, terus berdetak di jantung masyarakat yang sederhana, mayarakat yang menalar perjalanan bangsa dengan hati, bukan dengan belati. 

Sama halnya dengan konteks Gelora Bung Karno yang akan merah total pada Sabtu 24 Juni. Penegasan soal kedisiplinan kader dalam satu rampak barisan oleh Ibu Bangsa Megawati Soekarnoputri, dipertegas dengan lembut oleh Presiden Jokowi dan digelorakan oleh Calon Presiden 2024 Ganjar Pranowo adalah sebuah jembatan harapan. 

Harapan untuk terus bergerak maju dan melanjutkan cita-cita kemajuan bangsa, tentu yang dikehendaki adalah  pemimpin yang lahir dari rumah kebangsaan yang berdaulat yang digembleng oleh etika kedisiplinan. Rumah kebangsaan itu bernama PDI Perjuangan.

Quote