Ikuti Kami

PDI Perjuangan Tampilkan "High-Politics"

Sikap ini menampilkan politik sebagai high politics, bukan low politics yang kerap dilekatkan pada praktik politik transkasionak

PDI Perjuangan Tampilkan
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Jakarta, Gesuri.id - Alih-alih menonjolkan agenda politik elektoral, PDI Perjuangan memilih mengangkat isu krisis ekologis dan menjalankan program internal partai yang langsung menyasar daerah terdampak bencana alam. Sikap ini dinilai sebagai upaya menampilkan politik sebagai high politics, bukan low politics yang kerap dilekatkan pada praktik politik transaksional.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memanfaatkan forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan di Jakarta, Minggu (11/1/2026), untuk berkomunikasi secara daring dengan tim dokter dan sukarelawan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) yang bertugas di Aceh, salah satu wilayah terdampak bencana. Para tenaga medis dan sukarelawan tersebut sebelumnya diberangkatkan menggunakan Kapal Rumah Sakit (RS) Laksamana Malahayati milik PDI Perjuangan.

Awalnya, Megawati berdialog dengan penanggung jawab tim di lapangan, Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Sri Rahayu dan tim dokter. Megawati menanyakan kebutuhan mendesak yang harus segera dikirimkan dari Jakarta guna mempercepat pemulihan warga. Dalam kesempatan tersebut, tim dokter melaporkan perlunya suplai susu untuk bayi usia 0-6 bulan dan makanan pendamping air susu ibu (ASI).

”Ya nanti segera dikirimkan. Karena, saya selalu mengatakan di dalam rangka mengatasi bencana ini yang paling dibutuhkan adalah kecepatan waktu,” ujar Megawati dalam dialog tersebut. Dialog berlangsung seusai Megawati memberikan pengarahan tertutup dalam Rakernas I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium, Jakarta Utara.

Baca: 

Setelah koordinasi logistik, Sri Rahayu mempersilakan seorang warga menyampaikan aspirasi langsung kepada Megawati. Seorang ibu yang menggendong anak berusia 1 tahun 9 bulan kemudian muncul di depan kamera. Ibu tersebut menyampaikan bahwa dirinya baru saja menyelesaikan pemeriksaan kesehatan di Kapal RS Laksamana Malahayati.

Megawati kemudian menanyakan jumlah anak ibu tersebut. Perempuan itu menjelaskan bahwa ia memiliki dua anak, masing-masing berusia 17 tahun dan 21 bulan. Anak sulungnya saat ini masih bersekolah di tingkat menengah.

Mendengar penjelasan itu, Megawati menanyakan kondisi akses pendidikan pascabencana. ”Apakah sekolahnya terdampak sehingga anaknya tidak masuk sekolah? Atau sekarang sudah mulai bersekolah kembali?” kata Megawati.

Perempuan tersebut menjelaskan, kegiatan belajar-mengajar belum kembali normal karena bangunan sekolah terdampak banjir. ”Masih bersih-bersih sekolah, belum mulai belajar,” tuturnya.

Megawati berharap proses pembersihan fasilitas pendidikan di lokasi bencana bisa segera rampung agar hak belajar anak-anak tidak terhenti terlalu lama. ”Insya Allah pembersihannya bisa segera dilakukan supaya anak-anak bisa kembali bersekolah,” ujar Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu.

Tugas kemanusiaan

Selain berdialog dengan warga, dalam rangkaian rakernas tersebut, DPP PDI Perjuangan melalui Baguna secara resmi meluncurkan buku berjudul Spirit Kemanusiaan: Manajemen Risiko Bencana ala Megawati Soekarnoputri.

Selain dihadiri Megawati, acara itu juga dihadiri Ketua DPP Bidang Ekonomi Kreatif M Prananda Prabowo dan Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPR Puan Maharani. Turut hadir Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Bendahara Umum PDI Perjuangan Olly Dondokambey, serta jajaran DPP partai, di antaranya Tri Rismaharini, Ribka Tjiptaning, Charles Honoris, dan Basuki Tjahaja Purnama.

Hasto menyampaikan, buku tersebut menggambarkan secara mendalam manajemen mitigasi bencana dan kepedulian tinggi Megawati terhadap pelestarian lingkungan. Ia menambahkan, peluncuran buku ini bertepatan dengan aksi kemanusiaan PDI Perjuangan melalui Kapal RS Laksamana Malahayati yang tengah menjalankan misi gotong royong pengobatan dan pemulihan pascabencana banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.

Ribka Tjiptaning menuturkan, aksi kemanusiaan PDI Perjuangan di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, telah dimulai sejak 5 Desember 2025. Tim kesehatan juga telah diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak.

”Setiap hari kami melakukan pengobatan gratis, trauma healing, dan dapur umum. Saya baru tiba kemarin malam karena ingin menerima medali dari Ibu. Kami bahkan pernah menempuh perjalanan 30 jam lewat darat demi tugas kemanusiaan ini,” ujarnya.

Seusai acara, saat hendak meninggalkan arena rakernas, Megawati menerima kecupan dari putra-putrinya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Momen tersebut terjadi di depan latar peringatan HUT Ke-53 PDI Perjuangan.

Megawati berdiri di tengah mengenakan busana merah khas partai. Prananda dan Puan mencium pipi Megawati dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan, yang disambut Megawati dengan senyum.

Kehadiran Puan dalam Rakernas I ini untuk memberikan pengarahan strategis kepada kader secara tertutup. Hal itu dilakukan sebagai kelanjutan pembekalan yang digelar Sabtu (10/1/2026). Melalui pengarahan tersebut, diharapkan instruksi partai tersampaikan secara linier hingga tingkat akar rumput, terutama dalam menghadapi dinamika politik nasional 2026.

Menampilkan ”high politics”

Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman, menilai sikap Megawati dalam Rakernas menegaskan pilihan politik PDI Perjuangan sebagai high politics, bukan law politics yang erat kaitannya dengan politik transaksional. Menurut dia, Megawati justru mengarahkan perhatian pada problem mendasar politik Indonesia. Salah satunya melalui penekanan pada isu krisis ekologis, perubahan iklim, serta banjir dan bencana yang tidak semata dipahami sebagai bencana alam.

”Ia melihat lebih dalam bahwa banyak bencana merupakan bencana sosial yang terhubung dengan praktik ekonomi politik, mulai dari pendalaman ekonomi ekstraktif, problem oligarki, relasi kuasa antara penguasa dan pengusaha, hingga deforestasi dan pembalakan hutan,” ujarnya.

Airlangga menilai, sikap itu menunjukkan posisi politik PDI Perjuangan yang hendak mengoreksi persoalan-persoalan struktural. Ia mengaitkan hal tersebut dengan tema Rakernas I PDI Perjuangan, 

Baca: Jelang Rakernas PDI Perjuangan, Ganjar Tegaskan Pilkada 

”Satyam Eva Jayate, Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”, yang menekankan sikap fundamental dan prinsipal terhadap persoalan republik, terutama lingkungan hidup.

Megawati, menurut Airlangga, juga menekankan pentingnya solidaritas dan kemanusiaan sebagai fondasi membangun kembali kebersamaan sosial. Dalam konteks politik nasional, hal ini dinilainya sebagai kritik terhadap kecenderungan elite politik yang abai terhadap persoalan mendasar masyarakat.

”Pesan utamanya, politik harus dikembalikan sebagai high politics yang berpijak pada prinsip-prinsip dasar kehidupan berbangsa,” katanya.

Airlangga menambahkan, sikap terbuka Megawati dalam pidato publik tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan lebih spesifik dalam forum-forum internal rakernas. Konsolidasi politik partai, menurut dia, tetap dilakukan di ruang tertutup, tetapi arah besarnya diletakkan pada agenda-agenda prinsipil.

Ia juga menilai pendekatan itu sejalan dengan tradisi ideologis PDI Perjuangan yang merujuk pada pemikiran Sukarno tentang partai sebagai penyambung lidah rakyat. 

”Ketika persoalan sosial dan kemanusiaan dipisahkan dari keputusan politik partai, di situ partai kehilangan relevansinya. Pesan itu yang coba ditanamkan Megawati, baik ke internal partai maupun ke publik,” kata Airlangga.

Artikel ini telah tayang di  Harian KOMPAS, Senin 12 Januari 2026.

Quote