Jakarta, Gesuri.id- Dinamika politik Indonesia pada era Orde Baru diwarnai oleh ketegangan tinggi antara rezim penguasa dan tokoh-tokoh oposisi. Salah satu dinamika yang paling menonjol adalah kekhawatiran penguasa terhadap munculnya putri Proklamator, Megawati Soekarnoputri, di panggung politik nasional.
Politikus PDI Perjuangan, Dr. Ribka Tjiptaning, mengungkapkan bahwa pada masa-masa krusial tersebut beredar kencang rumor mengenai adanya operasi yang bertujuan untuk menyingkirkan Megawati secara fisik maupun politik.
Ia menilai Presiden Soeharto kala itu merasa sangat terganggu dengan kehadiran Megawati. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan sistematis rezim Orde Baru yang berupaya mengikis pengaruh Bung Karno di tengah masyarakat melalui gerakan desoekarnoisasi.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
"Sejak Soeharto berkuasa, ada istilah desoekarnoisasi. Tidak bolehlah ada ajaran tentang Bung Karno, jangankan ajarannya, menyebut nama Soekarno saja tidak boleh, sangat haram," ujar Ribka Tjiptaning kepada Moncong Putih.
Ribka menjelaskan bahwa upaya pengikisan sejarah tersebut bahkan masuk ke dalam ranah penetapan hari lahir Pancasila. Rezim saat itu berusaha mengaburkan peran Bung Karno sebagai penggali Pancasila 1 Juni dan mengalihkan narasi sejarah kepada figur lain.
Ia menambahkan bahwa Soeharto memiliki kekhawatiran besar apabila Megawati tampil ke publik, mengingat charisma sang ayah yang melekat padanya dapat menggalang kekuatan massa yang sangat besar.
"Soeharto pasti berpikir, kalau Megawati yang merupakan putri Bung Karno muncul, dia yakin sekali pasti akan menjadi orang besar. Dan itu terbukti, beliau kemudian menjadi Presiden, Gelora Bung Karno difungsikan kembali, dan Pancasila bisa kita peringati setiap 1 Juni," jelasnya.
Menurut Ribka, berbagai niat buruk dan upaya penyingkiran yang diarahkan kepada Megawati pada akhirnya selalu menemui kegagalan. Ia menilai ada perlindungan moral dan spiritual yang membuat Megawati mampu bertahan melewati masa-masa sulit tersebut.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
"Niat-niat jahat ke Mbak Mega itu tidak pernah bisa berhasil, semuanya mental. Mbak Mega itu banyak prihatinnya, sehingga biar bagaimanapun beliau tidak bisa dibunuh," tegasnya.
Selain itu, Ribka mengamati bahwa para kader atau pihak-pihak yang memutuskan berpaling dan berkhianat pada masa perjuangan tersebut pada akhirnya mengalami kemunduran dalam kehidupan politik maupun pribadi mereka.
"Orang-orang yang berkhianat, baik yang lari ke kubu Soerjadi maupun yang pindah partai, hidupnya tidak ada yang menjadi orang sukses. Kebanyakan dari mereka hidupnya susah dan tersiksa," pungkas Ribka.

















































































