Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPP PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning, menghadiri peringatan 30 tahun peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli). Ia menegaskan bahwa momen tiga dekade ini harus dijadikan media refleksi mendalam, khususnya bagi generasi muda.
Ribka mengingatkan para anak muda dan kader generasi penerus agar benar-benar memahami makna sejarah besar di balik berdirinya partai. Menurutnya, PDI Perjuangan didirikan di atas pengorbanan yang amat mahal dan tak ternilai harganya.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Ia menyampaikan bahwa partai tersebut lahir dari penderitaan rakyat yang sempat terdiskriminasi dan tersingkirkan. Pada masa itu, para simpatisan PDI yang mendukung Megawati Soekarnoputri harus mengalami berbagai bentuk intimidasi dan penganiayaan.
"Kita bukan partai sekadar bentukan notaris atau pemberian penguasa, tetapi betul-betul lahir dari perjuangan rakyat," tegas Ribka kepada tim Gesuri.id, Senin (27/6).
Mengenang brutalnya peristiwa tersebut, Ribka membeberkan gambaran kekerasan yang terjadi di kantor DPP PDI. Mobil pemadam kebakaran yang diturunkan kala itu bahkan meluncurkan tekanan air keras ke arah massa, hingga perhatian dunia dan lembaga seperti Amnesty International tertuju ke lokasi kejadian.
Ia juga menyoroti simpang siurnya data korban jiwa serta keberadaan kuburan massal di Pondok Ranggon. Peristiwa kelam itu meninggalkan jejak trauma, termasuk kesaksian korban di kamar mayat RSPAD yang sempat terbangun dan melihat rekan-rekan seperjuangannya telah gugur.
Ribka menegaskan pentingnya anak muda mengetahui bahwa peristiwa Kudatuli merupakan cikal bakal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Tanpa adanya gerakan dan pengorbanan dalam peristiwa tersebut, kran demokrasi yang dinikmati masyarakat hari ini tidak akan pernah terbuka.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Ia mencontohkan bahwa berkat Reformasi, kesetaraan sosial kini dapat terwujud. Anak seorang buruh bisa menjadi gubernur, anak petani mampu menjabat sebagai bupati, wali kota, hingga anggota DPR, serta anak seorang tukang kayu dapat terpilih menjadi presiden.
"Sekarang kondisi sudah aman, tidak ada lagi pemanggilan oleh Kodim seperti zaman saya dulu. Dulu seluruh pengusaha dan birokrasi berpihak pada kubu Soerjadi, sementara Megawati hanya menang karena mengandalkan kekuatan rakyat," pungkasnya.

















































































