Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) dikirimi foto-foto dari pemilik ternak babi, Soleman Selly, anggota Kelompok Tani Hutan Anlok, Desa Busalangga Timur, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), baru-baru ini.
Foto-foto itu adalah foto induk babi yang beranak menghasilkan 9 ekor anak babi.
Baca: Gaji ASN Pemprov DKI Kelebihan Bayar, Tata Kelola Buruk !
Ansy mengungkapkan, Soleman Selly sangat gembira, karena program Pengembangan Perhutanan Sosial Nusantara (Bang Pesona) yang diterimanya tahun 2020, kini telah memberikan hasil berupa bertambahnya jumlah ternak babi peliharaannya.
"Saya ikut gembira karena bantuan yang saya perjuangkan untuk peternak rakyat di Kabupaten Rote Ndao mulai menunjukkan perkembangannya," ujar Ansy.
Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, program Bang Pesona merupakan hasil kerja sama dirinya dengan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Di tengah merebaknya virus atau penyakit flu babi afrika (African Swine Fever/ASF) di awal tahun 2020 puluhan ribu babi pun mati. Namun para peternak rakyat tetap berusaha.

"Maka, kelahiran babi bagi saya adalah sebuah harapan baru, kebangkitan dari ASF," ujar Ansy.
Bang Pesona diberikan untuk masyarakat sekitar hutan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta ditujukan untuk pembibitan tanaman kayu dan buah serta ternak, baik lebah madu, sapi, kerbau, babi atau kambing.
Setiap Kelompok Tani Hutan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 50 juta untuk pengembangan kemampuan usaha dan meningkatkan ekonomi produktif petani hutan.
"Adapun tahun 2020, bantuan ini diberikan kepada sembilan (9) kelompok di Kabupaten Rote Ndao dan satu (1) kelompok di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)," ungkap Ansy.
Beberapa kelompok di Rote bahkan memanfaatkan dana Bang Pesona tersebut untuk membeli dan mengembangkan usaha ternak babi.
"Ketika melihat kiriman foto-foto tersebut, saya sangat senang dan bersyukur karena kelompok mampu mengembangkan ternak babi meskipun saat ini NTT masih dilanda virus ASF," ujar Ansy.
Baca: Paryono: Komoditas Bantuan Pangan Non Tunai, Kantong Korupsi
Ansy menjelaskan, potensi peternakan babi di Rote secara khusus, dan NTT secara umum sangat besar karena babi bernilai ekonomi dan sosial budaya. Selain itu, didukung ketersediaan pakan dan pasar yang melimpah.
"Saya berharap usaha ternak babi ini terus ditingkatkan, hingga mampu memberikan nilai tambah dalam meningkatkan pendapatan anggota kelompok," tambah Putra NTT itu.

















































































