Ikuti Kami

Dewi Juliani Komitmen Kawal Bantuan Sosial Penyandang Disabilitas Khususnya Tunanetra

Dewi: Kami hadir di sini sebagai perwakilan saudara-saudara sekalian untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak masyarakat.

Dewi Juliani Komitmen Kawal Bantuan Sosial Penyandang Disabilitas Khususnya Tunanetra
Dewi Juliani SH saat menuntut salah seorang penderita disabilitas yang akan berangkat ke Pematang Siantar. (riau86.com)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI fraksi PDI Perjuangan, Dewi Juliani, menyatakan komitmennya untuk mengawal peningkatan keterampilan dan akses bantuan sosial bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra di Provinsi Riau.

Hal tersebut disampaikan Dewi saat menyerap aspirasi dalam kegiatan "Berbagi Berkah Ramadan" di Pekanbaru, Sabtu (7/3/2026), yang turut dihadiri anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu.

"Jangan berkecil hati dan jangan merasa sendiri. Kami hadir di sini sebagai perwakilan saudara-saudara sekalian untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak masyarakat," tegas Dewi.

Dalam pertemuan tersebut, berbagai keluhan disampaikan oleh perwakilan kelompok disabilitas terkait minimnya akses terhadap Bantuan Langsung Tunai (BLT) serta perhatian pemerintah yang dinilai sering kali hanya muncul menjelang pemilihan umum.

Perwakilan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Riau, Yogi, meminta para wakil rakyat memperlakukan kelompok disabilitas secara adil agar tidak terus diposisikan sebagai masyarakat kelas tiga.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan Marjoni yang menyoroti realisasi BLT di lapangan yang dinilai tidak sejalan dengan instruksi pemerintah pusat.

"Instruksi dari pusat katanya disabilitas diprioritaskan untuk BLT. Tapi kalau kita tanya di sini, berapa yang dapat? Mungkin hanya sekitar lima sampai tujuh persen saja," ujar Marjoni.

Peserta lainnya, Syahrul, turut mengkritik fenomena elit politik yang kerap memanfaatkan kelompok disabilitas hanya demi meraup suara saat pemilu, namun perhatian terhadap hak-hak penyandang cacat sering kali menghilang setelah kontestasi politik berakhir.

Di sisi ekonomi, Surya memaparkan ketatnya persaingan jasa pijat di era modern yang membuat para tunanetra semakin tersisih karena keterbatasan alat serta minimnya pembaruan keahlian.

"Kami banyak bekerja sebagai tukang urut. Tapi sekarang persaingan semakin banyak. Kami berharap ada tempat atau fasilitas agar kami bisa mengembangkan kemampuan dan tetap bisa bersaing di dunia kerja," keluh Surya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Dewi Juliani menegaskan akan mendorong upaya konkret untuk memperkuat kapasitas ekonomi para tunanetra melalui peningkatan keterampilan dan dukungan peralatan kerja.

Sebagai langkah awal, Dewi merancang program pelatihan pijat profesional dan terapi bekam guna meningkatkan daya saing para tunanetra di Pekanbaru. Ia juga akan mengupayakan pengadaan peralatan pendukung agar layanan jasa yang mereka tawarkan memiliki nilai tambah secara ekonomi.

"Harapannya dengan pelatihan dan dukungan peralatan, kemampuan mereka meningkat sehingga taraf hidup juga ikut meningkat," pungkasnya.

Quote