Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi lll DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dapil Bali, I Nyoman Parta, mengenang kisah heroisme “Letnan Anumerta Merpati Pos” saat menghadiri lomba burung merpati di Lapangan Gianyar, Bali, Minggu (26/4/2026).
“Merpati bukan hanya indah, tapi juga punya sejarah panjang dalam perjuangan kita. Dari hobi, kita bisa belajar nilai-nilai besar,” tulis Parta dalam unggahan di akun media sosialnya, dikutip Selasa (28/4/20206).
Parta hadir di tengah kemeriahan lomba yang diikuti para pecinta merpati dara Bali. Di bawah langit cerah, ratusan pasang mata menyaksikan pelepasan burung-burung yang berlomba kembali ke kandangnya masing-masing. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarat makna bagi para penggemarnya.
Kehadiran Parta melengkapi sejumlah tokoh yang turut hadir, di antaranya Bupati Gianyar Agus Mahayastra, anggota DPRD Bali Gek Diah, anggota DPRD Kabupaten Gianyar Made Ratnadi, serta Sekda Gianyar Ngurah Bem.
Bagi Parta, merpati bukan sekadar hobi. Kedekatannya dengan burung membuatnya melihat makna lebih dalam di balik setiap kepakan sayap. Ia pun mengaitkan suasana lomba dengan kisah heroik dari masa perjuangan kemerdekaan pada 1946.
Kala itu, seekor merpati pos menjadi penghubung vital antara pasukan TRI Ronggolawe di wilayah Lamongan dan Bojonegoro dengan Surabaya. Burung tersebut menempuh jarak sekitar 120 kilometer untuk mengantarkan pesan penting di tengah situasi genting.
Namun di tengah perjalanan, pihak Belanda yang mencurigai perannya melepaskan tembakan hingga mengenai sayap kanan burung tersebut. Meski mengalami luka parah, merpati itu tetap melanjutkan perjalanan.
Dengan tubuh bersimbah darah, burung itu berhasil mencapai tujuan dan menyampaikan pesan penting sebelum akhirnya gugur di hadapan komandannya. Atas pengorbanannya, merpati tersebut dianugerahi gelar “Letnan Anumerta”, sebuah penghormatan langka yang diberikan kepada seekor hewan.
Jasadnya kemudian diawetkan dan disimpan di Museum Brawijaya sebagai simbol pengabdian tanpa pamrih. Kisah ini, menurut Parta, menjadi pengingat akan nilai kesetiaan, keberanian, dan pengabdian.
Di tengah riuh tepuk tangan saat merpati-merpati kembali ke pangkuan pemiliknya, cerita tentang burung kecil yang pernah menyelamatkan pesan di masa perang itu seakan hidup kembali, mengingatkan bahwa bahkan makhluk paling sederhana pun dapat menjadi bagian dari sejarah besar bangsa.

















































































