Ikuti Kami

Bom Atom Hantam Nagasaki dan Penegasan Batas Wilayah Indonesia

Terauchi mengonfirmasi bahwa kemerdekaan Indonesia akan mencakup seluruh bekas wilayah Hindia Belanda. 

Bom Atom Hantam Nagasaki dan Penegasan Batas Wilayah Indonesia
Sejumlah orang menyaksikan ledakan eksperimental pada 25 April 1952 dari bom termonuklir atau bom hidrogen model H, 'saudara' dari bom atom yang diluncurkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Pada 73 tahun lalu, Agustus 1945, AS menjatuhkan bom 'Little Boy' di Kota Hiroshima, Jepang, sebagai tahap akhir PD II yang menewaskan lebih dari 120.000 orang. Setelah Hiroshima, Kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya.(AFP PHOTO/FILES)

Jakarta, Gesuri.id - Penerbangan Bung Karno pada 9 Agustus untuk menemui Marsekal Terauchi menghasilkan dampak strategis penting yaitu penegasan batas wilayah Indonesia.

Terauchi mengonfirmasi bahwa kemerdekaan Indonesia akan mencakup seluruh bekas wilayah Hindia Belanda. 

Hal ini sangat krusial karena mencegah niat sebagian faksi militer Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang sempat ingin memisahkan wilayah Indonesia Timur dari Pulau Jawa dan Sumatra.

Bung Karno mengenang keberangkatannya pada subuh 9 Agustus 1945 yang penuh dengan rasa cemas namun mantap secara mental.

"Perjalanan itu dilakukan dengan rahasia yang sangat ketat dan penuh bahaya. Kami terbang dalam pesawat pembom Jepang yang tidak bersenjata lengkap. Kami terbang menyusuri awan gelap. Jika pesawat Sekutu melihat kami, selesai sudah riwayat kami." 

Demikian ungkap Ir. Soekarno menggambarkan situasi mencekam saat bertolak dari Jakarta pada 9 Agustus 1945, dalam otobiografinya yang dicatat oleh Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Bab 21).

Penjatuhan bom atom di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 waktu setempat, bersamaan dengan invasi Uni Soviet ke wilayah kekuasaan Jepang, meruntuhkan moral pimpinan militer Kekaisaran Jepang (Daihon'ei) di Tokyo.

Pada hari itu juga, Kabinet Perdana Menteri Kantaro Suzuki mengadakan rapat darurat. Pihak Jepang menyadari bahwa perang sudah kalah total dan penyerahan tanpa syarat (Unconditional Surrender) kepada Sekutu hanyalah tinggal menghitung hari.

Panglima Tinggi Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi, menyadari bahwa runtuhnya kekaisaran di Tokyo sudah di depan mata. Oleh karena itu, pada 9 Agustus 1945, Terauchi menginstruksikan agar pertemuan dengan Bung Karno dipercepat.

Pihak militer Jepang ingin segera meresmikan pembentukan PPKI dan menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia sebelum Sekutu mengambil alih kontrol kawasan. 

Jepang berharap Indonesia yang merdeka di bawah pengaruh mereka akan menjadi wilayah benteng yang bersahabat pasca-perang.

Pemblokiran Informasi (Sensorship) Terhadap Rombongan Soekarno

Selama penerbangan Bung Karno pada 9 Agustus dari Jakarta menuju Singapura, militer Jepang yang mengawal penerbangan sengaja merahasiakan berita pemboman Nagasaki dan serangan Uni Soviet dari delegasi Indonesia.

Pihak Jepang khawatir jika Bung Karno mengetahui Jepang telah di ambang kehancuran pada 9 Agustus, delegasi Indonesia akan membatalkan misi diplomatik ke Dalat atau segera memproklamasikan kemerdekaan secara memotong komando Jepang.

Peristiwa yang terjadi sepanjang tanggal 9 Agustus 1945 membawa dampak domino mendalam yang mempercepat jalannya sejarah kemerdekaan.

Terciptanya Vacuum of Power (Kekosongan Kekuasaan) Lebih Cepat

Tragedi Nagasaki pada 9 Agustus memotong perkiraan waktu kekalahan Jepang dari hitungan bulan menjadi hitungan hari. Hal ini berdampak langsung pada garis waktu kemerdekaan Indonesia. 

Skenario bertahap yang awalnya dirancang Jepang berubah menjadi situasi darurat yang menuntut aksi cepat pimpinan bangsa.

Ketika Bung Karno berada di udara menuju Singapura pada 9 Agustus, para tokoh pemuda di Jakarta (seperti Sutan Sjahrir, Wikana, dan Chaerul Saleh) berhasil menangkap siaran radio sekutu tentang hancurnya Nagasaki.

Sjahrir dan Golongan Muda makin meyakini bahwa Jepang sudah tidak berdaya. Keberangkatan Soekarno pada 9 Agustus dinilai pemuda sebagai kompromi yang tidak diperlukan lagi. 

Hal itulah yang menjadi benih ketegangan utama yang berujung pada Peristiwa Rengasdengklok (16 Agustus 1945), dimana pemuda mendesak Soekarno agar memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu izin Jepang.

Perubahan Sifat PPKI dari "Bentukan Jepang" menjadi Alat Perjuangan Nasional. 

Meskipun keberangkatan Soekarno pada 9 Agustus difasilitasi oleh militer Jepang, hasil perundingan berikutnya di Dalat memberikan Bung Karno kebebasan penuh untuk mengelola PPKI. 

Sekembalinya ke tanah air, Soekarno memanfaatkan kewenangan ini untuk menambah anggota murni dari Indonesia, sehingga PPKI berubah fungsi menjadi lembaga sah yang siap mengesahkan UUD dan membentuk pemerintahan RI pada 18 Agustus 1945.

Bom Atom Menghantam Nagasaki

Tiga hari setelah menjatuhkan bom atom ke Hiroshima, Pasukan Amerika kembali menjatuhkan bom atom di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Bom tersebut dijatuhkan dengan parasut dari pesawat pengebom B29 Amerika pada pukul 11.02 waktu setempat.

Bom yang diberi nama julukan "Fat Man" mengacu pada Winston Churchill, berukuran 3,5m memiliki kekuatan 22 kiloton TNT dan beratnya 4.050kg meledak sekitar 500m di atas tanah dan menghancurkan kota, yang terletak di sisi barat pulau Kyushu di Jepang.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan dari Guam, Jenderal Carl A Spaatz, Komandan Angkatan Udara Strategis AS di Pasifik, mengatakan: "Penggunaan bom atom kedua terjadi pada siang hari, 9 Agustus, di Nagasaki. "Anggota kru melaporkan hasil yang baik. Tidak ada rincian lebih lanjut yang akan tersedia sampai misi kembali."

Sementara itu, kru penerbang B29 mengatakan asap dari kebakaran yang membentuk jamur di kota itu naik 50.000 kaki (15.240 m).

Sama seperti Hiroshima, Nagasaki dibom karena salah satu pelabuhan terpenting di Jepang yang menyediakan akses vital ke dan dari Shanghai. 74 ribu lebih orang diperkirakan tewas dalam peristiwa ini dan puluhan ribu lainnya terluka dan terkena radiasi.

Setelah bom Nagasaki, Amerika kembali memperingatkan orang Jepang bahwa serangan lebih lanjut dengan sifat yang sama akan dilakukan kecuali mereka menyerah. Lebih dari tiga juta selebaran dijatuhkan dari pesawat Amerika ke kota-kota besar di Jepang. 

Selebaran itu memperingatkan orang-orang Jepang bahwa lebih banyak senjata atom akan digunakan "berulang kali" untuk menghancurkan negara itu kecuali mereka segera mengakhiri perang.

Pada tanggal 14 Agustus Jepang menyerah kepada Sekutu.

Quote