Ikuti Kami

Risma Sebut Kekuatan PDI Perjuangan, Membesarkan Wong Cilik

Rakernas juga membahas politik jangka panjang bagaimana PDI Perjuangan berbuat untuk Indonesia Raya.

Risma Sebut Kekuatan PDI Perjuangan, Membesarkan Wong Cilik
Mensos Risma usai membawakan materi pengorganisasian wong cilik pada Rakernas II PDI Perjuangan yang dilaksanakan di sekolah partai DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6). (gesuri.id/Alvin Cahya Pratama)

Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan Tri Rismaharini mengatakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Partai Tahun 2021 tidak hanya membicarakan tentang politik praktis, seperti persiapan dan pemenangan Pemilu 2024. 

Baca: Kemiskinan Jakarta Naik, Ahok-Djarot Terbukti Lebih Baik!

Risma mengatakan Rakernas juga membahas politik jangka panjang bagaimana PDI Perjuangan berbuat untuk Indonesia Raya.

"Kami memang harus mengambil hati rakyat. Kemudian konsep-konsep pembangunan apa yang harus kami bisa jelaskan kepada masyarakat supaya visinya sama dengan tujuan. Bukan sekadar kami menang, tetapi bagaimana meraih masa depan yang lebih baik," kata Risma di sela-sela Rakernas PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).

Menteri Sosial RI itu juga mencontohkan bagaimana dirinya sebagai kader PDI Perjuangan mencoba mengentaskan masalah kelaparan. Risma tengah fokus menggencarkan program menanam padi dan buah-buahan.

"Masih proses semua, tetapi ada yang sudah bisa dirasakan di beberapa tempat," kata Risma.

Risma juga menyampaikan penyelesaian masalah kesulitan mengakses air di Asmat, Papua. Sebelumnya, masyarakat Asmat hanya bergantung pada hujan untuk mendapatkan air. Namun, saat ini masyarakat Asmat telah difasilitasi alat salinasi untuk menyuling air laut menjadi tawar.

"Saya percaya dengan membesarkan wong cilik, maka negara ini akan maju," jelas Risma.

Baca: Djarot Kritisi Moto Ultah DKI Jakarta Gunakan Diksi Sulit

Dia juga menyampaikan pengalamannya mengentaskan kemiskinan ketika menjadi wali kota Surabaya. Saat itu, angka kemiskinan di Surabaya mencapai 32 persen. Dia memperjuangkan wong cilik itu hingga saat ini buah kerjanya berhasil.

"Saya kemarin lihat survei dari BPS mengatakan bahwa tidak kurang dari 4 persen. Memang kenapa? Kalau kita kemudian tangani dengan benar, itu suatu kekuatan. Kami tidak perlu kemudian menjadi besar, tetapi bahwa yang paling penting adalah bagaimana bisa memenuhi kebutuhan kita sehari-sehari saja itu sudah dasar," jelas Risma.

Quote