Jakarta, Gesuri.id - Hidup tak pernah mudah bagi Adi Sutarwijono, akrab disapa Mas Adi atau Mas Awi. Tetapi beliau memilih menjalaninya dengan kepala tegak dan hati lapang. Kami mungkin tak pernah benar-benar tahu seberapa berat beban yang beliau pikul sebagai pimpinan, sebagai ketua DPRD Surabaya dan ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2019-204, amanah yang teramat berat di sebuah kota metropolitan berpenduduk 3 juta jiwa dengan segala kompleksitasnya. Tetapi kami tahu satu hal, bahwa beliau memilih memikulnya dalam diam.
Saya mengenalnya bukan hanya sebagai Ketua DPRD Surabaya, bukan hanya sebagai ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2019-2024. Saya mengenalnya sebagai pimpinan sekaligus sahabat. Sosok yang mengajarkan bahwa politik bukan tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian. Bahwa kepemimpinan bukan tentang perintah, melainkan tentang keteladanan.
Jauh sebelum menjadi seorang politisi, Mas Awi adalah jurnalis tangguh. Dia berada di garis depan perjuangan demokrasi saat menjadi jurnalis Surya dan Tempo. Dia tak hanya menulis, tapi menelisik dan menyodorkan banyak pertanyaan tentang apa yang ganjil dan coba disembunyikan semasa rezim Orde Baru berkuasa.
Saya sering menyaksikan bagaimana beliau bekerja melampaui batas kewajaran. Waktunya hampir tak pernah menjadi miliknya sendiri. Pintu rumah dinas maupun ruangan ketua DPRD selalu terbuka. WhatsApp hampir 24 jam aktif. Setiap pesan masuk pasti dibalas ketika beliau tidak memimpin rapat atau ada agenda yang mengharuskan tak memegang ponsel. Pagi hingga malam diisi dengan agenda yang padat, kunjungan warga, menyelesaikan persoalan partai, mendengar keluh kesah masyarakat kecil. Namun tak sekali pun saya melihat beliau mengeluh.
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
Mas Awi agaknya menerjemahkan ucapan Bung Karno dengan tepat: “Jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada Tanah Air dan bangsa.”
Mas Awi mempersembahkan hidupnya di jalur jurnalisme dan politik untuk tanah air dan bangsanya. Dua-duanya adalah jalannya untuk memperjuangkan kebenaran.
Dia bukan orang yang memilih lari dari kebenaran. Mas Awi adalah orang yang menurut Paus John Paul II sebagai orang yang mencari kebenaran. “One may define the human being, therefore, as the one who seeks the truth.” kata Yang Mulia Paus dalam “Faith and Reason”, 1998.
Tadi malam, Selasa (10/2/2026), ketika kabar Mas Awi wafat beredar, ponsel saya tak berhenti berdering. Banyak yang menyampaikan duka mengingat kebaikan beliau.
Seorang ibu di Kecamatan Rungkut telepon saya, menangis sesenggukan. ”Kalau tidak dibantu Pak Adi, anak saya sudah putus sekolah,” ujarnya.
Seorang Ketua RW di Kecamatan Sukolilo mengirimkan foto kenangan bersama Mas Awi di rumah dinas. Di foto itu, Mas Adi mengenakan kaus hitam, tersenyum lebar bersama sang ketua RW. ”Orang baik itu telah pergi, Mas,” ujar Mas Abidin, ketua RW tersebut.
Jika hidup seperti pertarungan di medan tempur, saya yakin ada banyak luka di punggung beliau. Luka di punggung adalah luka yang tak terlihat. Luka akibat terus berjalan ke depan, menahan beban, melindungi orang-orang yang berada di belakangnya. Dan begitulah beliau yang saya kenal: memilih berdiri paling depan saat menghadapi masalah, tetapi berjalan paling belakang saat menerima pujian.
Dari beliau saya belajar tentang kesabaran dalam menghadapi dinamika. Politik pasti penuh dinamika, penuh silang pendapat. Saya masih ingat pesannya ”Dalam politik, jangan pernah memusuhi orangnya. Lawan gagasannya, bukan pribadinya.”
Nasihat sederhana, tetapi sulit dijalankan bila seseorang tak memiliki keluasan hati.
Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
Sebagai ”anak buah” dan yuniornya, saya pernah merasa gagal, merasa belum mampu memenuhi ekspektasi dan harapan beliau, terutama terkait kerja-kerja politik di tingkat akar rumput. Namun beliau tak pernah mempermalukan dan menghardik. Beliau memanggil, mengajak duduk, dan berbicara pelan. Beliau membangun kepercayaan, bukan ketakutan. Dan dari kepercayaan itulah tumbuh keberanian untuk terus berusaha.
Mas Awi juga seorang penulis yang andal. Dan sampai akhir hayatnya, masih sering menulis sendiri, meski dengan posisinya memungkinkan memerintah staf untuk melakukannya. ”Menulis ini bagian dari mengasah pikiran, biar tetap tajam,” kata dia.
Saya masih menyimpan foto beliau mengetik di laptop, meski dalam dua tahun terakhir lebih sering menulis di ponsel.
Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi. Bagi banyak orang, beliau mungkin adalah tokoh publik, pemimpin lembaga, figur politik. Namun bagi banyak orang di keluarga besar PDI Perjuangan Surabaya, beliau adalah sosok senior dan sahabat yang lembut hati dan mengayomi.
Selamat jalan, Mas Awi. Upahmu besar di surga.

















































































