Ikuti Kami

Bonnie Triyana Khawatirkan Desoekarnoisasi Lewat Penulisan Ulang Sejarah

Presiden pertama RI Soekarno selama ini kerap menjadi sasaran upaya sistematis untuk meruntuhkan karakter dan perannya dalam sejarah bangsa.

Bonnie Triyana Khawatirkan Desoekarnoisasi Lewat Penulisan Ulang Sejarah
Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana khawatir akan kemungkinan munculnya narasi desoekarnoisasi dalam proyek penulisan ulang sejarah Indonesia yang digagas pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan.

“Yang terakhir, saya agak khawatir tentang narasi yang bersifat desoekarnoisasi,” ujar Bonnie rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI), Senin (19/5).

Menurut Bonnie, Presiden pertama RI Soekarno selama ini kerap menjadi sasaran upaya sistematis untuk meruntuhkan karakter dan perannya dalam sejarah bangsa.

Baca: Hadir di Pengadilan Tipikor, Ganjar Suntik Semangat ke Hasto

“Jujur, selama puluhan tahun, Soekarno, dia bukan hanya milik PDI Perjuangan, tapi milik bangsa Indonesia, didegradasi, diruntuhkan, dibunuh karakternya,” kata Bonnie. 

"Dan ini saya pikir juga penting untuk kita perhatikan bersama. Narasi-narasi seperti ini hendaknya tidak lagi ada di dalam proyek penulisan sejarah. Syukur-syukur kalau tidak ada,” ujar dia.

Oleh karena itu, pria yang berlatar belakang sebagai sejarawan ini menegaskan bahwa penulisan sejarah harus mampu menempatkan setiap tokoh secara proporsional, dengan catatan kritis yang bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda.

“Kita ingin menempatkan orang yang layak pada posisinya, dengan segala macam catatan-catatan untuk dipelajari oleh generasi muda,” ucap Bonnie.

Bonnie mengingatkan, tujuan dari belajar sejarah bukan sekadar menghafal angka dan tahun, melainkan untuk menumbuhkan sikap kritis dalam memahami sebab-akibat suatu peristiwa sejarah.

Baca: Ganjar Ungkap Hal Ini Akan Usulan Solo Jadi Kota Istimewa

Bonnie pun mempertanyakan transparansi pemerintah dalam menjalankan proyek penulisan ulang sejarah yang ditargetkan rampung Agustus mendatang.

Sebab, hingga saat ini, Komisi X DPR RI belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai pelaksana, tujuan, maupun metode dalam penyusunan sejarah nasional versi baru itu.

“Sampai hari ini kita sendiri enggak pernah tahu. Ya kan? Siapa yang mengerjakan? Untuk apa? Bagaimana mengerjakannya? Tulisannya seperti apa?” kata dia.

Quote