Jakarta, Gesuri.id – Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino memberikan catatan kritis terkait latar belakang dan kompetensi Sarjito dalam membangun instrumen bursa komoditas dari nol.
Harris menilai portofolio calon lebih didominasi oleh pengalaman di sektor pengawasan pasar modal serta penegakan hukum, ketimbang penguasaan teknis perdagangan komoditas.
Hal tersebut mengemuka saat Komisi XI DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dalam rangka Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) terhadap Calon Tunggal Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito, di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (24/8).
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Harris Turino menguraikan bahwa keahlian teknis terkait mekanisme perdagangan mineral, sistem resi gudang (warehouse receipt), quality assay, clearing, hingga price discovery komoditas strategis belum terlihat menonjol dalam rekam jejak calon.
Hal ini menjadi sorotan penting mengingat BMKS merupakan lembaga baru yang harus dibangun dari awal hingga batas waktu efektif per 1 Januari 2027.
"Kalau hari ini kami harus menyetujui Bapak ini menjadi hal yang menarik Pak, karena apakah DPR sedang memilih seorang ahli bursa mineral dan komoditas strategis atau kita sedang menyetujui seorang birokrat OJK yang diminta untuk belajar sekaligus sambil berjalan?" tegas Harris di hadapan forum RDPU Komisi XI DPR RI.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut juga mempertanyakan keberanian dan tolok ukur profesionalitas calon apabila hingga akhir Desember 2026 mendatang kesiapan ekosistem bursa belum mencapai target optimal.
"Seandainya persiapan yang Bapak lakukan kemudian baru mencapai 70 persen sampai akhir bulan Desember, apakah Bapak punya keberanian mengatakan kepada Presiden bahwa ini persiapannya belum selesai atas nama reputasi, maka terpaksa bursa ini kita undur? Atau indikator seperti apa yang Bapak akan pakai untuk berani menyatakan bahwa bursa ini sudah siap dan bursa ini belum siap?" lanjut Harris.
Sebelum pendalaman oleh jajaran anggota dewan, Sarjito dalam sesi pemaparannya menyampaikan strategi serta arah kebijakan pengembangan BMKS yang bertumpu pada pembangunan arsitektur kepercayaan (architecture of trust).
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Dalam presentasinya, ia menekankan pentingnya penguatan delapan pilar utama, meliputi infrastruktur, pasar, pelaku, produk, data, hingga regulasi yang tepercaya untuk mengatasi tantangan ketergantungan price benchmark luar negeri, risiko under-invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa.
Melalui bahan pemaparannya, Sarjito menegaskan visi besarnya untuk membawa Indonesia berdaulat secara ekonomi di pasar komoditas global. "BMKS tidak harus menjadi besar sejak hari pertama, tetapi harus dipercaya sejak transaksi pertama. BMKS harus mendorong transformasi Indonesia secara bertahap dari price taker menjadi price influencer, dan pada akhirnya price maker," papar Sarjito saat menyampaikan presentasinya.
Proses RDPU Fit and Proper Test Calon Tunggal Kepala Eksekutif Pengawas BMKS OJK ini dijadwalkan berlanjut hingga sore hari dan akan langsung dilanjutkan dengan Rapat Pleno Pengambilan Keputusan oleh Komisi XI pada hari yang sama.

















































































