Ikuti Kami

Kanjuruhan, Arteria: Tak Ada Alasan Gas Air Mata di Stadion

Arteria: Zaman saya dulu 2012 sudah tidak pakai gas air mata, sekarang 2022 kejadian dengan jumlah besar.

Kanjuruhan, Arteria: Tak Ada Alasan Gas Air Mata di Stadion
Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan mengutuk keras penembakan gas air mata oleh aparat di Stadion  Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Tembakan Gas air mata itu disinyalir jadi penyebab tewasnya 125 orang dalam insiden usai laga Arema DC meladeni musuh bebuyutannya Persebaya Surabaya. 

Baca: Hasto: Jangan Calonkan Pemimpin Memperebutkan Efek Ekor Jas

Untuk itu, Arteria Dahlan mengaku sepakat  dengan langkah Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang mencopot AKBP Ferli Hidayat dari Kapolres Malang. Ia berharap tindakan ini bisa mempermudah Polisi mendalami peristiwa Kanjuruhan berdarah yang menewaskan ratusan Aremania.

"Kita apresiasi langkah cepat Kapolres Malang bayangkan itu luar biasa karena yang bersangkutan itu bekas ajudan Kapolri sendiri. Mudah mudahan ini bisa mempermudah pemeriksaan," katanya kepada Populis.id pada Rabu (5/10).

Ia menegaskan harus ada evaluasi pasca kejadian tersebut, misalnya sekian ribu personil yang melakukan pengamanan harus dipastikan memang mampu atau mumpuni di bidangnya. Arteri sangat menyayangkan ketika ada Bhabinkamtibmas diikutsertakan dalam pengamanan.

Begitu juga mengenai Prosedur Tetap (Protap) tentang pengendalian massa, karena menurutnya ini kejadian yang paling luar biasa. Tragedi tersebut, kata dia, orang meninggal bukan karena sepakbola, tapi orang meninggal karena habis nonton sepakbola. Jadi, jangan dibicarakan ini kerusuhan sepakbola. 

"Ini kesalahan protap dalmas yang dilakukan oleh yang punya tanggung jawab untuk menjalankan fungsi-fungsi pengamanan. Nggak ada alasan gas air mata itu di stadion. Biasanya kita water cannon kok, itu brimob juga, kok tiba-tiba kemarin nggak gitu. Gas air mata bisa digunakan untuk mengusir, tapi tidak di dalam stadion," tegasnya. 

Ia memaparkan bahwa Indonesia sudah memperjuangkan bagaimana polisi dan pasukan pengamanan yang lain di luar sipil bisa masuk ke stadion. Karena aturan fifa itu tidak boleh polisi atau militer, tapi Indonesia berhasil meyakinkan fifa. Namun sangat disayangkan ini tidak dimanfaatkan dengan baik. 

"Apalagi dengan adanya gas air mata. Zaman saya dulu 2012 sudah tidak pakai gas air mata, sekarang 2022 kejadian dengan jumlah besar," ucapnya.

Baca: Pilpres 2024, Sekjen Hasto Beberkan Beberapa Kriteria

Oleh karena itu, Politisi PDI Perjuangan ini juga mendesak agar masalah ini diusut tuntas dalam banyak hal. Misalnya masalah stadion, kapasitas stadion misalnya 43 ribu, seharusnya tidak 43 ribu bisa masuk, apalagi lebih dari kapasitas. Ia menjelaskan jika di luar negeri banyak tribun kosong saat pertandingan, itu memang dikondisikan oleh tim pengamanan.

"Peristiwa Kanjuruhan ini kita juga ingin pertanyakan panitia pelaksana gimana, kita minta penjelasan dan klarifikasi adalah teman-teman di kepolisian. Bagaimana juga teman-teman PSSI," pungkasnya.

Quote