Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mendesak pemerintah mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul lonjakan jumlah titik panas (hotspot) yang mencapai 20.334 titik dalam sehari.
Peningkatan tersebut harus segera direspons melalui pemeriksaan dan langkah pencegahan di lapangan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Angka tersebut harus menjadi perhatian serius. Konsentrasi titik panas dalam jumlah besar dapat menjadi sinyal awal yang membutuhkan pemeriksaan dan respons cepat di lapangan,” kata Alex Indra Lukman, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan per 14 Oktober 2026, sebanyak 20.334 titik panas terdeteksi di Indonesia dalam periode 24 jam.
Sementara itu, laporan pada Senin (12/10) pukul 21.00 WIB mencatat 1.085 hotspot nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Di enam provinsi prioritas, jumlah titik panas juga meningkat menjadi 542 titik dari sebelumnya 238 titik.
Dari keseluruhan titik panas yang terdeteksi, sebanyak 1.784 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 17.916 titik berkategori sedang, dan 634 titik berkategori rendah. Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 11.166 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 2.404 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 1.156 titik.
Menurut Alex, pemerintah tidak boleh menunggu hingga kebakaran membesar sebelum meningkatkan upaya penanganan. Respons cepat diperlukan untuk mencegah meluasnya api, penyebaran asap, hingga dampak kesehatan yang dapat dialami masyarakat.
“Pemerintah tidak boleh menunggu sampai api membesar, asap meluas, atau masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan untuk meningkatkan penanganan,” tuturnya.
Alex menjelaskan, pemanfaatan teknologi satelit telah membantu pemerintah memantau wilayah yang luas dan mendeteksi indikasi awal kebakaran. Namun, informasi yang dihasilkan teknologi tersebut harus segera ditindaklanjuti melalui langkah konkret di lapangan.
“Teknologi satelit telah membantu Pemerintah memantau wilayah yang luas dan mengidentifikasi indikasi kebakaran.Namun, manfaatnya sangat bergantung pada kemampuan petugas menindaklanjuti informasi tersebut,” ungkap Alex.
Karena itu, ia meminta setiap titik panas yang memiliki risiko tinggi segera diverifikasi melalui pengecekan lapangan, patroli, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan indikasi kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
“Wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi harus menjadi prioritas, terutama jika berdekatan dengan permukiman, kawasan gambut, lahan pertanian, atau area yang sulit dijangkau,” jelasnya.
Alex menambahkan, lonjakan titik panas tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan karhutla. Kecepatan respons, ketepatan penentuan wilayah prioritas, dan tindak lanjut hasil pemantauan menjadi faktor penting agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sejak dini.

















































































