Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mendorong penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Durajaya sebagai motor penggerak ekonomi desa melalui pengembangan budidaya bioflok ikan.
Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan langsung ke unit usaha bioflok ikan mas dan nila yang dikelola BUMDes Durajaya, dikutip Rabu (18/3).
“BUMDes Durajaya saat ini mengelola empat unit usaha desa, yakni budidaya bioflok ikan, pepaya California, pengelolaan sampah, serta peternakan puyuh,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor ini.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Rokhmin berdialog langsung dengan pengelola terkait berbagai tantangan teknis dan manajerial yang dihadapi dalam pengembangan usaha desa, khususnya pada unit budidaya bioflok.
Unit bioflok sendiri ditangani secara teknis oleh Adi, seorang lulusan perikanan yang dipercaya sebagai direktur teknis. Hingga saat ini, terdapat lima kolam bioflok yang dikelola oleh tiga orang anggota, dengan panen perdana pada awal tahun menghasilkan sekitar empat kuintal ikan.
"Namun proses budidaya masih menghadapi tantangan karena tingkat mortalitas mencapai sekitar 50%, yang dipengaruhi oleh kondisi suhu dan pH air yang belum stabil, sehingga usaha bioflok masih berada pada tahap pengembangan," ucap Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.
Prof. Rokhmin menekankan bahwa sektor perikanan budidaya berbasis bioflok memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi lokal, terutama jika didukung dengan manajemen yang baik dan pendampingan berkelanjutan.
“Asalkan didukung oleh manajemen yang baik, ketersediaan benih, serta pendampingan teknis berkelanjutan,” jelas Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa desa-desa di Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal secara optimal.
Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) dan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini menilai kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mendorong keberhasilan usaha desa.
Sementara itu, pengelola BUMDes Durajaya berharap adanya dukungan tambahan berupa benih ikan, khususnya nila dan lele, serta pendampingan teknis agar produksi bioflok dapat meningkat secara optimal.
Dengan pengelolaan yang lebih baik dan dukungan berkelanjutan, unit bioflok BUMDes Durajaya diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat sektor perikanan budidaya di tingkat lokal.

















































































